Yang Salah, Mengganggu Siapa?
Yang Salah, Mengganggu, Siapa?
“Sssst. Kecilin, TV-nya. Tuan Putri tidak bisa tidur.” bisik sang istri pada suaminya, kakek Johan.
“Lo. Sekarang
kan baru setengah delapan malam. Apanya yang salah. Kenapa mesti pasang pelan-pelan? Bagaimana ik bisa ngerti jalan cerita filmnya kalau dikecilin?. Mestinya yang mengganggu – bukan nuduh, nih – orang yang tidur pada jam bukan tidur.” kata kakek Johan.
“Nah, jadi jij yang salah dong. Sebab yang bener, mesti disalahin dan yang salah, dibenerin, di zaman terbalik ini, ha, ha, ha,” kata istrinya dengan mata jenaka.
Ya, begitulah, saya membatin. Kalau anggauta keluarga tidur di jam bukan waktu tidur, makan, tidak di jam waktu makan, bekerja tidak pada waktu jam kerja. Orang lagi enak-enak nonton TV, enak-enak bekerja, enak-enak berlatih menyanyi – menjerit-jerit, istri memperbaiki – enak-enak makan, tahu-tahu kegiatannya di-stop, dianggap salah, dilarang, diberitahu agar jangan berisik karena Yang Mulia sedang tidur atau belajar.
Bagaimana kalau orang lagi enak-enak tidur di jam tidur umum, tahu-tahu diributin, dibikin kagak bisa tidur, karena Yang Dipertuan sedang asyik bekerja mengetok-ngetok membetulkan pintu, memasang CD keras-keras, entah apa lagi, diwaktu jam tidur umum itu? Siapa sebenarnya yang mengganggu, yang salah?
“Yang salah mah, memanja, mengangkat, memperlakukan, mendewa-dewakan anggauta keluarga sebagai Tuan Besar, Paduka Yang Mulia, Putri, …” kata pak Arif. April 1998