Wajar Aja
Wajar Aja
Ia seakan-akan orang bijak yang menyaru sebagai petani. Ia mungkin sudah diatas 80 tahun tapi masih kuat dan setiap hari bekerja di kebun sayurnya, bahkan juga di hari libur dan di waktu puasa. Istrinya membantu dan membawa makan siangnya seperti picnic aja di kebun. Mereka mempunyai 9 anak, yang bungsu saja sudah menginjak dewasa. Istrinya begitu sehat, sepertinya baru berumur 50 tahun. Ia jarang keluar lingkungan desanya, namun pak tani itu tahu banyak hal. Tak heran mereka pasangan setia.
Sedangkan orang kota, maklum bisa jatuh cinta pada sekretarisnya dan menikahinya. Tapi karena suami istri dilarang bekerja dalam perusahaan yang sama, istrinya berhenti bekerja. Suaminya lalu mengambil sekretaris baru. Ia bekerja, makan, membicarakan hal-hal bersama dan lambat laun ia mencintainya ketimbang istrinya. Sedangkan istrinya mungkin bekerja di kantor lain dengan boss yang tampan dan baik pula. Wajar aja kalau mereka tidak setia dan berselingkuh. Kehidupan masyarakat kota membuat mereka begitu.
Alam, makhluk hidup tak pernah heboh tentang pernikahan yang suci, ke gadisan, kesetiaan, perselingkuhan, anak haram, homo, porno, incest, … Kalau suatu waktu kita menjadi bijak, kita tidak sok suci lagi, kita sembuh dari sakit pemikiran begitu sebagaimana alam dan umat hidup yang sehat.
Juni 2010
Catatan
Anda dapat membaca seluruh tulisan yang ada dalam Bahasa Indonesia dengan “scroll” jauh kebawah mencari “Categories” di sisi kanan dan click “Bahasa Indonesia”.
// BEGIN PARAMETERS
var page_name = ‘#’;
var invisible = ‘#’;
var text_counter = ‘#’;
// END PARAMETERS
wtslog(‘al11554′,’2′,’http’,page_name,invisible,text_counter);
