Uraian Nyanyian Sang Pemimpin PS

Uraian Nyanyian Sang Pemimpin PS

Pesan:

Tak perlu basa-basi, jangan bertepuk tangan, kecuali kalau sampai anda tidak bisa tahan.

Pendahuluan

Di Betlehem kota kecil,
Lahir Juru Selamat.
Di Betlehem gereja kecil,
Lahir Diasebad:
Orang-orang kecil,
Diatas setengah abad,
Tanpa pendidikan musik,
Berani-berani bikin konser ini.

Jadi, ingat, kalau-kalau terjadi kesalahan, kecelakaan.
Jangan lupa, kami-kami masih begitu …Apa? … Muda.
Maklum, kami-kami belum sampai seratus tahun pula.

Bapa Kami – J.C. Anderson

Nah mari kita berdoa dan merasakan bagaimana rasanya doa itu dalam nyanyian ketimbang dihafal, kering, gersang begitu.

Waktu Tuhan Memulangkan Tawanan Sion – Chr. Palmer

Bagian akhir ada semacam kata-kata mutiara: “Yang sedih menabur akan senang menuai”. Apa yang dimaksud saya tidak tahu. Yang saya tahu, rasa, betapa indahnya itu kalau menyanyikannya.

Teringat PS Ebenhaezer tahun 60-an menyanyi lagu ini begitu indah, begitu menyentuh, rasanya mau nangis, kecuali orang itu tuli. Pemimpinnya Bapak Soplanit dengan koornya bagi saya sampai sekarang pun paling berkesan.

Ketika mereka membawakan lagu, “Namaku Disebut” yang begitu sederhana tapi dengan begitu indah, saya tidak ingin mendengar lagu lain lagi, meski itu aria-aria indah dari Bach, atau paduan suara hebat. Padahal dia bukan penyanyi solo, bukan dirigen, entah pemain biola, guru sekolah.

O Wie Lieblich Ist Der Anblick – Haydn

Sepasang kekasih berjalan-jalan di luar kota. Betapa indahnya pemandangan alam di musim semi: Takjub melihat hutan, padang rumput, aneka bunga, leli, mawar,… melihat anak domba berlompatan gembira, ikan berkerumunan, mendengar burung-burung berkicau, merasakan udara segar, melihat air bening, … membuat hati mereka terharu, bersyukur atas Taman Firdaus itu.

Firdaus memang adanya dimana saja dimana orang bisa melihat, bisa merasakan segala keindahan yang ada disitu kecuali bagi orang yang angkuh, matanya terbuka tapi toh tidak bisa/mau melihat, yang kebal terhadap segala keindahan disitu. Baginya tidak ada firdaus.

Kalau mau melihat Firdaus, tamasya saja ke Taman Cibodas. Tak perlu ke Jerman.

Psalm 103 – E. Mobach

Inilah seperti khotbah indah.
Berulang-ulang terngiang-ngiang “Tuhan yang rahmani, rahimi penuh pengampunan yang tidak membalas setimpal kesalahan, dosa kita.”

Memuji orang di belakangnya itu baik. Kalau didepannya itu mencari muka seperti sering dilakukan pada orang-orang gede.

Teringat Ibu Winailan bintang kecil saya dulu di tahun 60-an. Saya berani memujinya karena dia toh tidak hadir disini. Ketika ia menyanyi lagu ini, dia sepertinya tidak bisa menyanyi, karena merasa terharu atas rahmat yang begitu besar, begitu indah Dia menyanyi begitu menyentuh. Inilah khotbah terindah yang akan saya ingat seumur hidup.

Ave Maria – Mascagni

Teringat bintang kecil saya yang lain menyanyikan Ave Maria.

Sebelum menyanyi ia berkata entah apa ia sanggup menyanyi, soalnya ia baru kehilangan putranya, dibunuh secara ramai-ramai. Ketika menyanyi ia seakan tidak menyanyi tapi berdoa, menangis. Dia menyanyi melebihi artis-artis yang hebat. Seorang Tenor opera menyanyikannya cemerlang. Orang-orang akan bertepuk tangan.

Mendengar ibu itu menyanyi begitu menyentuh, orang-orang akan diam, tidak bisa bertepuk tangan. Ini bukan lagi virtuositas, kehebatan menyanyi, kehebatan permainan alat musik. Padahal sedikitpun ia tak faham bahasa latinnya tapi semua orang ikut merasakan doa dan dukanya.

Psalm 42 – F.Mendelsohn

Ibarat khotbah indah.
Bagai rusa yang dahaga, jiwa rindu pada Tuhan, berulang-ulang, mengiyeng-iyeng. Tidak ada pikiran lain yang bisa masuk.

Lagunya seperti bunga yang mekar mengarahkan dirinya ke matahari, silih berganti terus menerus sampai akhir, dengan begitu hening, begitu murni, begitu bahagia, melebihi indahnya hujan kembang api.

Bagai bunga yang mendambakan Sang Surya.

Air On The G String – J.S. Bach

Begini nyanyian surgawi, tanpa kata-kata yang difahami setiap orang: orang Cina, Rusia, Indonesia, Afrika, Islam, Hindu, Buddha, seluruh umat manusia, seperti pada hari Pentakosta di zaman dulu.

Bintang kecil saya yang lain juga pernah menyanyikan lagu serupa tanpa kata-kata dengan begitu hening, indah. Kalau diulangi lagi saya rasa ia tak bisa seindah itu lagi.

Penyanyi-penyanyi saya adalah bintang-bintang kecil, tidak kelihatan antara bintang-bintang, tidak pernah les, tidak tahu tehnik bak gadis desa manis yang masih polos, Betapa indah, ramping kakinya tanpa alas kaki, betapa memesona matanya, manis pipinya, betapa bagai bunga senyumnya merekah menghiasi wajahnya, tanpa “eyeshadow”, gincu. Nah, itulah bintang-bintang kecil saya.

Tidak apa memuji mereka. Mereka toh tidak mendengarnya atau mungkin mereka cuma-pura-pura tidak mendengar.

Ruht Wohl – J.S. Bach

Terharu, bak melihat seorang mati terbakar/tenggelam setelah menyelamatkan kita dari kobaran api/mati tenggelam tanpa kita bisa berbuat apa-apa, tak sempat menghaturkan terima kasih. Semacam itu perasaan yang ingin diungkapkan nyanyian ini mengingat Jesus mati disalibkan demi menyelamatkan umat manusia.

Ave Verum Corpus – Mozart

Semacam Pengakuan Iman yang bukan sekedar ucapan rutin, hampa, kering, mati lagi, melainkan menjadi hidup dalam nyanyian.

Sei Nun Gnadig Milder Himmel – Haydn

Para petani berdoa mohon berkat atas tanah mereka. Dengar saja pujian, rasa syukur mereka.

Selain sulit, nadanya begitu tinggi dan panjang. Saya ingat Fanny Blankerskoen, seorang ibu yang juara olympiade lompat tinggi dulu sebagaimana kuda melompat, tanpa teknik sekarang dengan gaya straddle, punggung.

Nah penyanyi-penyanyi saya sebentar ibarat juga mesti melakukan lompatan amat tinggi tanpa teknik. Saya dan anggauta deg-deg-an. Tapi, … ini tantangan dan kebanggaannya, yakni sanggup menaklukkannya kalau mengingat kami orang-orang diatas setengah abad tanpa pendidikan musik, tanpa teknik menyanyi dan pemain organ saya yang tak pernah masuk sekolah musik dan baru mulai belajar di waktu dewasa. Bangga, ibarat seorang berumur 70 tahun masih mampu berlari marathon Jakarta-Cibinong.

The Lord Bless You – P.S. Lutrin

Saya persilahkan hadirin berdiri.
Arahkan hati dan pikiranmu pada Tuhan.
Rasakan bagaimana rasa berkat itu.

Sekian konser kami.

September 2009

Catatan
Anda dapat membaca seluruh tulisan yang ada dalam Bahasa Indonesia dengan “scroll” jauh kebawah mencari “Categories” di sisi kanan dan click “Bahasa Indonesia”.

wtslog(‘al11554′,’2′,’http’);

web stats analysis

// BEGIN PARAMETERS
var page_name = ‘#’;
var invisible = ‘#’;
var text_counter = ‘#’;
// END PARAMETERS

wtslog(‘al11554′,’2′,’http’,page_name,invisible,text_counter);

site statistics

wordpress hit<br />
counter” border=”0″></a><br /><a href=View My Stats

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.