Uang Baik Kalau Menghamba
Uang Baik Kalau Menghamba
“Pilih sepeda yang kuat, bagus dan harganya murah. Nanti saya sediakan uangnya. Tapi, jual sepeda yang lama, ya, kata ….” Begitu cerita opa (kakek) Johan.
“Ngga enak benar diatur-atur, dikejar-kejar untuk cepat mencari sepeda baru. Mentang-mentang saya sudah kakek, tidak punya penghasilan, saya mau diatur-atur. Lebih enak kasih aja uangnya, biar saya yang mengatur.
Tak tega rasanya kalau sepeda lama saya itu yang begitu berjasa, mesti diloakkan dulu. Lebih baik saya kasih sepeda lama saya pada pak tukang minyak yang keliling, Ia orang susah yang tentu akan menyayangi, menghargai sepeda itu. Kalau sepeda lama mesti diloakkan, ya engga usahlah dibeliin sepeda baru, ceritanya lebih lanjut.
Tanpa mesti diminta dulu, Tuhan aja memberi kita tangan tanpa memaksa kita mesti memakainya untuk berdoa saja. Kita bebas memakainya sesuka kita. Untuk bekerja, membelai, memeluk, bermain piano, melukis, menari, memberkati, ya, juga untuk memukul atau menyakiti orang, makhluk lain, tapi kalau … tega. Ha, ha, ha, opa Johan tertawa. Oh, betapa banyak kegunaannya. Itupun baru tangan, belum lagi kaki kita, belum lagi yang lain-lainnya.”
Saya terdiam dan membatin. Kalau saya nanti mau membantu orang dengan sesuatu, sebaiknya memberinya dalam bentuk uang saja ketimbang dalam bentuk barang, apa lagi jangan sampai dalam bentuk hutang,. seperti IMF dengan 50 persyaratan mesti begini-begitu.
Memberinya sebagai hadiah pada orang yang hidup dalam kesempitan, mengingat pepatah, UANG BAIK KALAU MENGHAMBA, TETAPI BURUK KALAU BERKUASA. Tentu ia amat menghargainya dan merasa amat girang, bersyukur, meski itu sedikit. Uangnya menghamba tuh. Ia akan memakai hamba alias uang itu secara bijak untuk keperluan yang paling penting, paling menyenangkan, paling memuaskan diri atau keluarganya, tanpa perlu merendahkan diri dengan mengemis-ngemis dulu.
Kalau uang yang berkuasa, ingat saja para spekulan yang mempermainkan harga dolar. Bisa dibabat habis hutan-hutan, diuruk danau-danau, dikuras habis kekayaan alam, “dirusak” nurani kita dan seribu satu keburukan, kejahatan lainnya. karena atau demi uang.
Sinar Pagi, 22 Pebruari 1998