Tumbuh-tumbuhan Liar
Tumbuh-tumbuhan Liar
Sebuah tembok tua memanjang antara Jl. Tanah Abang I dan Petojo Enclek XIV bagaikan sisa-sisa tembok benteng kuno. Tembok itu sudah ditumbuhi rerumputan, dan bunga liar merambat, menghiasi dengan manis celah-celah tembok dan membingkai bekas pintu-pintu masuk dengan bunga-bunganya, tanpa anda bersusah-susah untuk menanamnya.
Berjalan-jalan di sana, orang seakan-akan dibawa berlibur ke pedesaan di luar Jakarta. Tapi itu dulu.
Keistimewaan lain adalah sebuah pohon liar yang “merangkul” tembok itu dengan akar-akarnya, akar-akar mana seakan-akan tergores indah bagaikan suatu “relief” klasik sebuah candi kuno.
Tetapi malang baginya, entah siapa, pernah menebang habis dahan-dahannya. Kecuali akar-akarnya selamat dari perusakan dan penghinaan tersebut, namun apa yang masih tertinggal masih cukup berharga untuk – seperti Ayub yang dilanda 1001 malapetaka – tidak putus asa, melainkan tetap bertahan hidup.
Menjelang 17 Agustus atau jika ada aksi kebersihan sebagaimana biasanya di mana-mana, tembok itu “dibersihkan”. Namun apa yang dihasilkan justru sebaliknya; yakni kegersangan tembok yang rusak, bopeng dan tidak enak untuk dipandang, karena tumbuh-tumbuhan liar yang dikenakan pembersihan itu, justru memperindah dan menutupi kejelekan dan kekotoran tembok ini, bagaikan rambut indah yang menutupi bekas luka di wajah seorang.
Wahai tumbuh-tumbuhan liar yang malang!
Sang Bayu menarikanmu, membuaimu dalam gerak gemulai; para seniman menyanyikanmu dalam nada dan syair, melukis mu dalam sapuan garis dan warna indah, dan umat insan menyambut dan mengecupmu dalam bahagia.
Sang Maha Seniman sendiri yang “melukisnya” di atas kanvas tembok tua itu, “menggoresnya” dengan akar-akar seperti “relief” candi kuno; “menghiasi” tebing gunung, tepi jurang, tepi sungai dengan pohon-pohon liar; “merenda” pinggir jalan dan selokan kita dengan ilalang, rerumputan serta bunga-bunga padang.
Kepicikan kita saja yang tak dapat melihat keindahan mereka dan menganggap apa yang tidak berharga sama dengan “tidak berguna” dan “jelek”, sedangkan apa yang mahal sebagai “berharga” dan “indah”.
Beruntung tak “digusur”, sejenis pohon karet liar yang mungkin sudah berumur lebih dari seratus tahun, berdiri dengan megah dan agung di halaman Mesjid Istiqlal.
Oktober 1987
Dimuat Media Indonesia 23 Agustus 1991
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to comments via RSS Feed
