Tulisan Tanpa Cela
Tulisan Tanpa Cela
“Saya tidak tahu harus ketawa atau menangis ketika membaca tulisan saya yang dimuat.” kata seorang penulis ketika tulisannya diedit atau disunting begitu rupa sehingga tidak bisa ia kenali lagi, ibarat wajahnya dirias begitu rupa sehingga ia tidak mengenali dirinya.
“Sayakah yang bodoh atau penulisnya? Kok saya tidak bisa mengerti maksudnya?” seorang pembaca membatin.
Begitu a.l. keluhan orang, jika ada kesalahan, atau editing kurang baik, atau berlebihan di surat kabar. Meskipun redaksi, korektor telah mengupayakannya sebaik mungkin. Entahlah, mungkin karena diburu waktu. Maklum, manusia bukan komputer yang tidak bisa salah. Tidak ada satu surat kabar pun yang luput dari kesalahan. Namun, selama bisa menangkap apa yang dimaksud, atau menerka kata yang sebenarnya, saya merasa itu tidak terlalu mengganggu. Hitung-hitung dihidangkan teka-teki, ketimbang harus mencaci-maki. Toh kalau perlu bisa diralat.
Kesalahan lebih parah yang sampai mengubah maksud sebuah kalimat menjadi kebalikannya pun, kadang-kadang masih bisa terungkap makna sebenarnya dengan menelusuri alur tulisan.
Nah, jika anda membaca sesuatu yang tak masuk akal, jangan lantas memvonis penulis atau redaksi sebagai “bodoh”. Selain kadang-kadang lucu, justru membuat kita “terjaga”, kritis, waspada. Iklan yang tak sengaja dimuat terbalik, lebih menggoda. Siapa tahu, penulis atau redaksi sengaja menulis sesuatu yang tak masuk akal dengan maksud untuk berolok-olok agar lebih diingat, seperti iklan terbalik itu. Misalnya:
“Anda tak pernah terlalu muda untuk merasa tua!” Kalimat yang benar justru sebaliknya.
Memang, selain lezat, tulisan tanpa cela menjadi hidangan kebanggaan dapur redaksi, kerabat kerja, serta kebahagiaan Sang Penulis.
Ekonomi Neraca 13 Pebruari 1996
Catatan
Anda dapat membaca seluruh tulisan yang ada dalam Bahasa Indonesia dengan “scroll” jauh kebawah mencari “Categories” di sisi kanan dan click “Bahasa Indonesia”.
