Tetap Muda di Usia Senja
Tetap Muda di Usia Senja
“Aki-aki, nini-nini pe…” seraya meluncur kata-kata menghina, menyakitkan, ketika TV menayangkan orang-orang tua di sebuah panti wreda.
“Ah, jangan anggap rendah orang-orang itu,” kata pak Arif. “Orang tak dapat membayangkan bahwa mereka pun, dulu lucu, manis, ketika masih kanak-kanak, lalu tumbuh segagah kau dan yang perempuan, bahkan ada yang cantik, ayu, jelita bak bidadari. Andaikan
kau melihatnya semasa belia, tak mustahil, kau pun akan termimpi-mimpi, kecewa dan menyesalkan diri kalau orang lainlah yang jatuh kedalam pelukannya,” begitu katanya. Orang sepertinya juga tak bisa percaya, membayangkan, kalau Putri Diana, Pangeran Charles misalnya,
bahkan dirinya, kekasihnya, ya setiap orang, kelak juga akan menjadi, entah tuli, lamban, kurus, keriput, rambut memutih, menipis, ompong atau bergigi palsu, bungkuk dan berjalan tertatih-tatih seperti mereka.
Namun, usia senja bukan halangan bagi orang untuk bisa melakukan, mewujudkan keinginan, impiannya. Semangat, gairah hidup bisa saja masih membara. Warga usia lanjut Jepang masih mendaki gunung Fuji. Trio Marie (75), Marion (64) dan Aileen (64) masih berpetualang dalam reli pesawat terbang tua London-Brisbane sejauh 10 ribu mil dan sempat singgah di Jakarta tahun 1990. Orang di usia senja masih suka
berkarya, berpesta, menari, menyanyi, bergembira, sekurang-kurangnya di antara mereka, bahkan Jessica Tandy meraih Oscar di usia 80 tahun. Tak mustahil ada yang masih memadu kasih dan menikah disekitar usia itu.
Mereka bagaikan orang-orang muda yang baru berumur 60, 70, 80 tahun. “You’re never too old to be young”, begitu kata-kata sebuah lagu. ”Anda tak pernah terlalu muda untuk merasa tua” kata si
upik. ”Jangan berolok-olok”, kata saya karena si upik sengaja menerjemahkannya terbalik. Bagi orang yang merasa dirinya muda, hidup di masa senja pun tetap memesona dan disyukuri.
Suara Karya, 6 Juni 1996