Gelar Yang Lebih Membumi Dan Manusiawi
Gelar Yang Lebih Membumi Dan Manusiawi
Seram rasanya membaca artikel yang ditulis orang yang bobot namanya besar dan biasa menghiasi tulisannya. Entahlah, mungkin diwajibkan aturan tak tertulis, ibarat aturan yang mewajibkan orang berpakaian lengkap atau sekurang-kurangnya memakai dasi. Misalnya, penulis rektor, penulis lulusan Universitas Belanda, lulusan Harvard, Doktor, Ir. dalam ilmu astronomi, peraih Nobel kemanusiaan dan sebagainya. Melihat pagelaran gelar, kedudukan, jabatan, anugrah hadiah tertinggi, yang begitu angker, orang sudah dibuat kagum, takluk sebelum membaca isinya. ‘Bagus, hebat, …’ Siapa yang berani mengatakan ‘jelek’? Tentu orang akan berkata, pembacanya saja yang goblok, bodoh. Dan orang takut, malu disangka bodoh.
Di halaman depan surat kabar tercantum misi luhur yang diembannya, seperti “Amanat Penderitaan/Hati
nurani Rakyat”.
Alangkah sedapnya jika penulis, maupun redaksi, tidak merasa perlu menakut-nakuti pembaca dengan
menyebut keistimewaan diri penulisnya yang begitu menyeramkan. Dan seandainya dianggap perlu pun
menggelarnya dengan gelar yang lebih membumi, lebih manusiawi seperti: penulis pengemudi becak,
penari jaipong, penghobi mancing, pengelola warteg, gadis “sales” jamu gendong, ibu rumah tangga,
pramugara bus kota, pengembara, penghibur, penganggur, … Bayangkan, pikiran, nurani rakyat masuk koran.
Bukankah itu misi yang diemban persurat kabaran kita? Ingat saja cerita Hans Andersen, “Pakaian Baru Sang Kaisar.”* Karena takut, malu disangka bodoh, kebenaran malah keluar dari mulut anak kecil yang polos karena tidak takut, malu disangka bodoh. Kebenaran pun bisa keluar dari mulut warga
kecil, dari siapa saja, kalau tidak “Takut, Malu Disangka Bodoh”. Begitu kata pak Mamat, seorang pensiunan PU pada saya.
Jayakarta, 13 Oktober 1994
* Sang Kaisar tergila-gila pada pakaian indah. Memanfaatkan kesukaan kaisar untuk mendapatkan banyak
uang, dua orang melamar.
“Kami bisa membuat pakaian yang terindah diseluruh dunia. Hanya orang betul-betul pinter saja bisa
melihat dan mengaguminya.” kata kedua orang itu.
Berita pakaian istimewa itu pun tersebar kemana-mana dan ditunggu-tunggu rakyat. Di tempat tidurnya Sang Kaisar
tersenyum. Ia kini bisa menguji kepinteran dan kecakapan menterinya, tamunya, rakyatnya, hanya dengan memakai busana ini.
Betapa terkejutlah ia, ketika ia sendiri tak bisa melihat pakaian barunya. Takut, malu disangka bodoh, Sang Kaisar pura-pura memegang dan mengaguminya. Kedua penjahit itu lalu melepaskan baju, kecuali celana dalam dan mendandaninya dengan pakaian bohongan itu. Keringat dingin membasahi tubuhnya,ketika ramai-ramai, anggauta stafnya memuji, mengagumi pakaian itu. Astaga, mereka saja bisa melihatnya.
Sang Kaisar lalu diarak keliling kota. “Tiada taranya, ah, indahnya, selera seni tinggi …” begitu memuji semua orang, karena juga takut, malu, disangka bodoh. Maklum, kalau mereka ingin disangka
pinter.
Tiba-tiba anak kecil menyeletuk: “Eh, bu, itu orang kok tak berpakaian?” “Sssssst.” lalu dibekaplah
mulutnya. Terlanjur, ocehan anak itu terdengar dan tersebar ke mana-mana. “Wah, Kaisar tak berpakaian,”
orang-orang membenarkan kata bocah itu. Rakyat kini tertawa tergeli-geli, ditahan-tahan, menutupi
mulut mereka.
Nah, semua berbohong. Kebenaran juga bisa berawal di mulut anak kecil.
Catatan
Anda dapat membaca seluruh tulisan yang ada dalam Bahasa Indonesia dengan “scroll” jauh kebawah mencari “Categories” di sisi kanan dan click “Bahasa Indonesia”.
