Suvenir Dari Atlanta

Suvenir Dari Atlanta 

Pudarlah impian, harapan, bersama gugurnya  hampir semua jago-jago kita. Tinggallah pasangan  bulutangkis, Ricky, Rexy.  Dalam panas, sengitnya pertarungan,  mereka sudah  tidak mengingat lagi akan medali emas  yang ingin direbut, iming-iming hadiah-hadiah yang akan menanti, jika menang.  

 Sayup-sayup bait-bait “Negeri, tanah air,  bangsa, rakyatku yang ku cinta” mengalun  di hati  mereka.Ini saja sepertinya yang diingat. Oh, mereka tidak akan  berduka,  andaikan  mereka  sebagai  pribadi gagal. Tetapi kalau sampai gagal membela entah itu bangsa,  rakyat,  negeri, atau adik,  anak,  ayah, ibu,  istri,  kekasih, itu tak  tertahankan,  amat menyakitkan. Lain kalau tidak dicintai. 

Bisikan hati mereka seakan-akan mewajibkan,  memerintahkan  mereka tidak boleh kalah,  meski  lebih mudahlah  jika  menyerah, kalau  mengingat  betapa mereka  berkali-kali amat dekat tepi jurang  kekalahan yang membuat yang menyaksikan sampai  bergidik  dan gelisah. Kalau mengingat, betapa  tangguh pasangan lawan  dan  betapa  gigih  mereka  pula, membela  negeri dan rakyat mereka dengan  semangat yang tidak kurang, tidak kalah dari fihak kita. 

Dan  doa dipanjatkan bagi  pahlawan-pahlawan  kita disini dan juga doa bagi pahlawan-pahlawan  mereka disana.  Tetapi Tuhan tidak memihak. Ah,  sulitnya menentukan,  memilih, fihak mana yang harus dimenangkan, fihak mana dikalahkan. Alangkah sedihnya,kalau  akhirnya  pahlawan-pahlawan  lawanlah yang begitu  hebat, tangguh, mengagumkan  harus  gugur.”Buat  kejuaraan yang lebih manusiawi” seru  batin saya. 

Macam itulah emas yang direbut dan  dipersembahkan Ricky,  Rexy. Emas yang jauh melebihi medali  emas Olimpiade. Rasanya bagai kesejukan di musim  kema­rau kemelut. Sebuah suvenir yang tak akan terlupa­kan dari Atlanta 

Kalau  pun ada orang yang lebih bahagia dan  lebih bangga,   ialah  sang  guru,  pelatih,   Christian Hadinata. Di tempat tidur ia merenung dan  merayakan  hasil tempaan, karyanya. Dan saya lalu  teringat Sang  Penyair (Schiller)  berkata: “Buah  karyalah  yang memuji (mengharumkan nama) Sang Maestro.”                                    

Jayakarta, 22 Agustus 1996 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.