Surga Di Sini
Surga Di Sini
“Surga di sini, sambil menepuk-nepuk kantong, kata ayah” begitu cerita ibu dulu. Maksudnya kantong tebal, dengan impian: makanan, minuman enak, Mercy, rumah gedung, dan kalau bisa,
membeli bidadari sekalian.
Namun,makin banyak kita memiliki apa yang dijajakan dunia sebagai surga melalui iklan, terutama di TV, atau dipajang di etalase, – siapa yang tidak tergiur? – makin jenuh, makin jauh ia lari dari kita,
bahkan tidak jarang balik membelenggu dan menumpulkan perasaan seorang.
Saya teringat peristiwa ketika berulang tahun dikirimi makanan lezat, kue tar, puding, buah segar, es krim begitu banyak. Mata saya berkata: “Ini baru surga makanan”, kata perut: “Ini mah “neraka”.
Bukan karena tidak menghargai pemberian sanak saudara,- Tuhan mengampuni saya – lebih baik saya melimpahkannya lagi kepada orang-orang lain. Selain mereka ikut menikmatinya, saya bebas dari siksaan
memakannya habis atau siksaan membiarkan makanan itu terbuang sia-sia.
Tidak pernah pusing-pusing mencari surga, tak disangka-sangka saya dihadiahinya, bukan sekali saja, bahkan seringkali, meskipun dalam keadaan kantong kempes.
Tak cukup beruang untuk membelikan anak-anak es krim sebangsa Peters, atau Campina, namun ketika putri saya yang kecil mungil membelikan es nong-nong pinggir jalan, es dalam kerucut kue sekecil jempolnya, meski es itu hanya terbuat dari santan encer saja, lalu membelanjakan segenap kekayaan uang jajan yang cuma Rp 10,-
Bergantian kami mengecup es yang digenggamnya pelan-pelan dan hati-hati di pojok tersembunyi. Dan sampai hari ini hampir 25 tahun yang lalu, masih saja terkenang manisnya surga itu.
Tak bermobil, saya naik bis, bersepeda, atau jalan, menyusuri alam pinggiran Jakarta dan lelah bertamasya menemukan surga di bawah pohon, sedang jajan ketoprak, pecel, dengan santai.
Yang berkantong kempes maupun yang berkantong tebal, pandai-pandailah membeli surga. Mulut tidak munafik. Ia tidak mempersoalkan harga, mewahnya makanan. Lapar, bahagia, segar dan sehat mengubah sebungkus nasi dengan sambal dan tempe saja menjadi makanan surgawi. Tetapi keadaan sebaliknya bisa mejadikan makanan selezat apapun terasa sepahit meminum obat. Surga ada dalam tidur yang nyenyak dan tidak membedakan antara tikar, bale-bale dan tempat tidur di hotel berbintang lima. Surga ada dimana saja dimana mereka yang kita sayangi berada.
Media Indonesia, 21 Pebruari 1992