Souvenir Olimpiade Barcelona Dan Seoul

                      Souvenir Olimpiade Barcelona dan Seoul 

 Bagaikan  penari  balet,  para gadis manis  pesenam tujuh belasan tahun,  entahlah. mungkin dari
Bulga­ria       menghadapi saat-saat  giliran “ujian” mereka  dengan cemas.  Tetapi sekali mulai “menari”  dengan  mata berbinar-binar, mereka lupa akan para juri dan  para penonton.   

 Namun  salah  satu  diantaranya  mengalami  musibah  karena  dua kali gagal untuk mendarat mulus  di“bu­mi”.  Hatinya menangis, kalau mengingat ribuan kali  pendaratan  yang mulus semasa persiapan sebelumnya. Bagaikan  bidadari  dengan sayap  patah  dan  wajah  tertunduk  ia pergi menyendiri untuk meratapi  “na­sibnya”. 

Tidak  seperti yang kadang-kadang dilakukan seorang pelatih,  ia tidak diberondong dengan umpatan,  ma­kian.  Pelatih  ini ikut merasakan  kepedihan  hati anak  asuhannya.  Tahu bahwa kegagalan bisa menimpa semua atlet,  sampai yang sehebat apa pun, ia  mendatangi  dan  merangkulnya. Entah apa  yang  dibisikinya, lalu sebuah senyum manis kembali merekah menghiasi  wajahnya. Itulah kalungan emas  penghar­gaan pelatihnya di Olimpiade
Barcelona yang  sempat  ditayangkan TV.   Kalau  yang  masih terkenang  di  Olimpiade  Seoul,  bukanlah  pidato-pidato  pembukaannya,  bukan  pula kehebatan  Kristin Otto,  Flo-jo, bahkan bukan juga  keayuan  ratu tenis,  Steffi Graf maupun  Sabatini, tetapi berita kecil mengenai Mariana Ysrael, pelari  putri  marathon.  Ia bukan juaranya, malah  menjadi peserta yang tiba paling akhir, namun …. 

Kesepian,  gelisah,  ia sudah tertinggal amat  jauh  dibelakang.   Lelah,  panas,  haus,  tetapi panitia yang  harus menyediakan air bagi peserta  sepanjang  rute, sudah bubar dan masih harus ia  menyelesaikan    perjalanan “maut” itu yang serasa tak ada akhirnya.  

Orang  lain,  tentu sudah lama menyerah,  namun  ia  tetap membandel dan berhasil mencapai finish. Tetapi para pengunjung tidak melupakannya.  Ia  tetap ditunggu.  Dan  bukan olok-olok, cemooh,  ejekan,  hinaan menantinya, melainkan sambutan  hangat,  baginya,  seorang  peserta juru  kunci,  ah,  tentu serasa  bagai taburan bunga dari surga, atau  bagai   kesejukan yang melebihi kesejukan minuman apa  pun, karena inilah kalungan emas penghargaan mereka atas kepahlawanannya menaklukkan “neraka” di
Seoul.  

                                    Jayakarta, 19 Agustus 1992

wtslog(‘al11554′,’2′,’http’);

web stats

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.