Sopir Bus dan Mantan Abang Becak
Sopir Bus dan Mantan Abang Becak
“Jika dengan ’3 in 1′ Pemda DKI bermaksud menganjurkan warganya agar lebih banyak memakai kendaraan umum ketimbang kendaraan pribadi, enakin aja sarana pelayanan angkutan umum.Jumlah kendaraannya banyakin, jalurnya tambahin, trayeknya lebih disebarin. Saya mah ngangkut ’50 in `1′, melebihi tempat duduk untuk penumpang, kadang-kadang lebih.” begitu kata sopir bus.
“Tanpa kendaraan umum pun, lalulintas akan macet. Tetapi tanpa kendaraan pribadi, dengan kendaraan umum aja, jalan-jalan akan lengang. Maklum, begini pikiran bukan orang pinter.” lanjutnya.
“Dan meski ditambah dengan ojek, anglingdarma dan seluruh armada becak yang pernah beroperasi di Jakarta pun, lalulintas tetap akan lancar. Syukur-syukur diadakan razia mobil penumpang. Yang membangkang jangan ditilang, jangan diperingetin, mobilnya aja ceburin ke laut seperti becak kita dulu, biar kapok.” nyeletuk mantan abang becak, mengenang semasa dijadikan kambing hitam kemacetan lalulintas.
Takut kaum bermobil tersinggung, pak sopir berbisik: ”Nah, sudah sewajarnya jika kendaraan umum diprioritaskan. Bukankah lebih masuk akal jika hanya satu jalur saja disediakan bagi kendaraan pribadi. Biar sengaja dimacetin” katanya “Selebihnya untuk kendaraan umum? Bukan sebaliknya, seperti yang berlaku sekarang (di waktu itu, penulis), kalau memang mau mengurangi kemacetan. Dengan begitu, orang ramai-ramai akan naik kendaraan umum, ketimbang kendaraan pribadi. Selain mengurangi polusi, menghemat BBM, rit bisa bertambah, lebih banyak penumpang bisa terangkut, anak, bini saya ikut makmur. Yang merasa risi naik bus, mikrolet, bemo, bajay, silahkan naik mobil pribadi. Biar kapok dalam kemacetan.”
Jayakarta, 12 Mei 1992