Sinterklas
Sinterklas
31 Januari 1995 adalah tahun baru Imlek, hari gembira anak-anak berkeliling untuk memanen ”angpao” (hadiah uang dalam amplop berwarna merah), entah dari orang tua, dari famili atau kenalan yang sudah dewasa.
Saya jadi terkenang masa gembira serupa di zaman dulu dengan perayaan hari Sinterklas tanggal 5 Desember. Namun, seorang kenalan yang mungkin tidak pernah mengalami perayaan itu mengatakan: “Buat apa membohongi anak-anak dengan cerita seorang Sinterklas yang datang dari Spanyol, menghadiahkan mainan sewaktu mereka tidur?”
Alangkah indahnya, hari-hari Sinterklas itu. Setelah dewasa saya malah bersyukur atas ”cerita bohong” orang tua saya yang indah itu. Dan setelah menjadi orang tua, kami malah meneruskannya lagi
pada anak-anak.
Dengan mata berbinar-binar, jauh sebelum waktu tidur, anak-anak menyiapkan sepatu mereka dibawah tempat tidur berikut rumput untuk kuda Sinterklas. Betapa inginnya mereka hari segera menjadi hari esok. Mereka oepat-cepat pergi tidur, karena tidak sabar menanti fajar. Dengan hati-hati, bagai maling, giliran kami sibuk membungkus, meletakkan hadiah-hadiah di kolong tempat tidur mereka. Alangkah manis dan lucunya menemukan surat-surat mereka yang begitu polos pada Sinterklas dalam sepatu mereka. Ketika dini hari kami terjaga, sayup-sayup terdengar suara mereka, hilir-mudik,
sibuk, bisik-bisik, membuka bungkusan. Padahal kami harus menahan tawa geli, berpura-pura masih tidur.
Nah, itulah hadiah indah Sinterklas bagi anak-anak. Bisa membuat anak-anak itu begitu bahagia dengan datangnya kado yang tak disangka-sangka, itulah hadiah indah lainnya yang diberikan pada
kami, orang tua mereka.
Sinterklas atau Kerstman (kakek Natal pembawa hadiah) bagi saya telah menjadi lambang seseorang yang membawa hadiah, derma, kebaikan, rejeki, berkah, tanpa ingin diketahui identitasnya, agar membebaskan penerimanya dari hutang budi.
Jayakarta, 15 Pebruari 1995