Semutpun Akan Melawan
Semutpun Akan Melawan
Orang mengecam kalau anak-anak dilibatkan dalam perang. Kalau diingat, bagaimana mereka “diajari” supaya mau ikut berperang, bagaimana memanggul senjata, bagaimana meyakinkan mereka mengapa dan bagaimana harus membunuh sesama manusia. Jika mereka mengalami trauma, frustrasi, kehilangan kaki, lengan, mata bahkan kehilangan nyawa seperti yang ditulis dalam Child Warriors, Time, Juni 1990.
Apa itu lalu tidak menjadi apa-apa, asal saja yang dilibatkan, dikorbankan itu para pemuda dan orang-orang dewasa?
Apa lagi jika itu tidak terjadi jauh disana, jika itu tidak cuma merupakan tayangan di TV atau adegan dalam film atau tulisan di media massa, melainkan seandainya itu menimpa anda sebenarnya seperti mesti kehilangan ayah, ibu, kakak, kaki, lengan, … nyawa, itu adalah lautan duka, derita. Apalah artinya setetes hiburan disebut pahlawan, dianugrahi bintang pahlawan? Dan perihal pahlawan, bakankah dialah yang lebih pahlawan yang berani menolak perintah, tugas menembak, membom, melontarkan peluruh kendali bak hujan kembang api untuk membunuh, memusnahkan sesama orang?
“Jika semua orang berani menolak, tentu tidak akan ada perang. Biarlah ia sendiri yang berkelahi, memasuki, melanggar wilayah orang lain, melakukakan segala keburukan dan membenarkan tindakannya atas namanya sendiri dari pada menghasut orang-orang yang tidak tahu apa-apa ikut-ikutan dalam perang, membawa angkatan perang yang besar demi memaksa mewujudkan ambisinya, ha, ha, ha.” Kata si upik.
“Mana ada kewajiban, perintah akal sehat untuk menembaki, membunuh sesama manusia? Lain kalau untuk membela, melindungi diri, keluarga, negara sewaktu diancam, diserang. Tanpa perintahpun, orang, anak, wanitapun akan melawan, ibarat semut yang diusik, dirusak sarangnya.”
Bisnis Indonesia 26 Juni 1990
Catatan
Anda dapat membaca seluruh tulisan yang ada dalam Bahasa Indonesia dengan “scroll” jauh kebawah mencari “Categories” di sisi kanan dan click “Bahasa Indonesia”.
