Seks Karunia Alam
Seks Karunia Alam
Winarsih, gadis Wonogiri adalah salah satu korban yang diungkapkan media massa diantara mungkin ribuan gadis yang menjadi korban lainnya. Begitu cerita pak Arif pada saya.
Anjing kesayangan keluarga saja bisa di KB-kan, tetapi mengapa penerangan KB tak diberikan kepada remaja kita? Apa demi menjaga “kesucian” mereka, mencegah mereka melakukan dosa?
Bagi wanita yang sudah menikah, kehamilan itu disyukuri, tetapi bagi gadis yang belum menikah, kehamilan itu “neraka”. Jika sampai hamil, mereka terpaksa menikah (dipaksa atau diancam masyarakat
secara halus/kasar). Belum lagi mereka siap membangun rumah tangga karena alasan keuangan.
Atau ia terpaksa harus menggugurkan kandungannya dengan segala bahaya yang menyangkut pengguguran, ancaman dituntut hukum, serta beayanya yang besar. Jika tidak, ia akan melahirkan anak yang dicap masyarakat dengan “haram”, menanggung rasa malu, ditambah beaya bersalin dan beaya membesarkan anak itu. Dari mana ia bisa mendapatkan uang ini karena ia masih remaja?
Atau karena semua jalan buntu, nekat seperti Winarsih dengan bunuh diri.
Seandainya Winarsih atau gadis-gadis lainnya tahu bagaimana caranya ber-KB seperti “gadis-gadis” di negara maju, mereka akan terhindar dari “malapetaka” kehamilan. Apa penerangan KB tidak perlu diketahui remaja kita? Dari pada mereka “mencuri-curi” mendapatkan pil atau alat-alat kontrasepsi, bukankah lebih baik diberi pertolongan di klinik KB? Syukur jika pasangan yang bersangkutan kelak menjadi pasangan sejati.
Siapa yang bisa terhindar dari desakan seks, kecuali orang yang sudah jompo? Sang Pertapa, orang yang sudah menikah saja bisa “khilaf” apalagi mereka yang belum.
Padahal seks adalah karunia alam, bukan suatu aib. Berbahagia, bersyukurlah karena adanya seks. Lihat saja bagaimana sepasang kekasih saling melirik-lirik, bercumbu-cumbu, atau melihat sepasang merpati, sepasang kupu-kupu melakukan upacara pernikahan.
Ilona Staller, si Juita, mantan wakil rakyat Itali bermotto: “Hancurkan senjata energi nuklir. Tingkatkan energi seksual!”
Dalam falsafah Cina, “Yin” adalah yang bersifat feminin, perempuan, betina, sedangkan “Yang” adalah yang bersifat maskulin, laki, jantan. Dimana Yin dan Yang berpadu, Disitulah Surga
Begitulah kata pak Arif.
Media Indonesia 28 Maret 1990
Catatan
Anda dapat membaca seluruh tulisan yang ada dalam Bahasa Indonesia dengan “scroll” jauh kebawah mencari “Categories” di sisi kanan dan click “Bahasa Indonesia”.
