Sedap Dipandang Mata
Sedap Dipandang Mata
Melihat siluet pohon berlatar-belakang matahari tenggelam bagai lukisan tinta hitam.
Melihat bayangan setangkai bunga yang dibuai angin bagai tayangan pada dinding tembok.
Melihat asap obat nyamuk meliuk-liuk keluar, naik dan menghilang ke udara.
Melihat pohon mangga bersemi bagai berkerudung mempelai.
Melihat rembulan yang mengintip di balik awan.
Dibawah catatan buku harian si buyung itu si upik menambahkan, “Dan apalagi, jangan sekali-kali lupa melihat senyum si ‘jantung hati’ diberikan kepadamu.”
Ekonomi Neraca, 25 Pebruari 1997
