Sebuah Perayaan Ulang Tahun

Sebuah Perayaan Ulang Tahun

Anak-anak pak Arif sudah mandiri. Semua sudah memiliki mobil, sementara Pak Arif jalan kaki, naik sepeda, naik bus, naik kereta api. “Maklum, orang bodoh”, katanya. Mereka ingin menyenangkannya dengan menjamunya makan di restoran, entah apa lagi, bahkan menyediakan dana untuk ia tur ke luar negeri sebagai hadiah ulang tahunnya.

“Lingkungan di luar Jakarta saja sudah amat indah” katanya: “Jurangmangu, Kampung Melayu, di Tangerang, Tanjung Pasir, Cinangka, Kapuk, Serpong, Rumpin-Leuwiliang, Ciater, … Wow, manisnya disapa, dihadiahi seorang gadis dengan setangkai rambutan yang baru dipetik ketika letih berlari sampai di Cilenggang, tapi tidak dimakan, melainkan dibawa pulang untuk dipajang menghiasi meja makan.”. Ia tersenyum, mengenang sekitar 50 tahun yang lalu, ketika tak disangka-sangka dihadiahi … sebuah ciuman dari si Upi sebagai hadiah ulang tahunnya. Itu baru hadiah!!!

Ia berangan-angan suatu hari dapat menysuri pulau Jawa, dari desa ke desa bersepeda atau jalan kaki, naik angkot, menginap di losmen atau tidur di tapang di sebuah warung, syukur kalau bisa mengunjungi pulau-pulau yang lain. Atau bersama cucu menyusuri kali Cisadane dari Rumpin ke Leuwiliang pakai sepatu boot melalui air. Bukan ke luar negeri. Cuma sayangnya ia tidak dapat membawa isterinya karena terlalu berat baginya.

“Apa sih yang diingini ayah?” tanya anak-anak.

“Paling-paling sandal baru karena yang lama sudah hampir habis dipakai.” kata ibu. “Diberi jam Swiss yang istimewa dulu, ia tidak pakai-pakai, akhirnya dikembalikan, karena lebih betah memakai jam digital murah yang lama. Selain tidak diincar orang katanya, jam itu merangkap bunyi lonceng, weker, stop-watch dan kalendar.”

“Atau berikan saja tanah untuk meninggikan kebunnya, eh, bukan kebun, tapi hutan atau cagar alamnya, karena segala macam tanaman, sampai rerumputan pun dibiarkan saja tumbuh. Padahal hutanya cuma 2 X 5 meter. Semacam suaka bagi pohon beringin, flamboyan, belimbing, rambutan, nangka, mahoni, saga dan pohon-pohon lain entah apa namanya. Tidak ada yang ia beli, mereka tumbuh sendiri atau di selamatkan dari mesti di buang diwaktu masih kecil. Belum lagi berbagai pakis, macam-macam rerumputan yang ia biarkan tumbuh.”

“Ada dua kolam yang ia buat sendiri. Ikannya ikan-ikan kali, rawa, sebagian ia berhasil menyelamatkan dari diracuni atau mati dalam kekeringan, ganggang, tanaman air diambilnya dari sawah. Ada ikan beunteur, sepat, cupang, cenang-cenang, udang, julung-julung dan satu ikan macan (kata orang) yang diselamatkan waktu masih kecil, mungil tapi terpaksa di lepaskan lagi ketika menjadi besar karena memangsa ikan-ikan lain. Dilepaskanya di kali di depan Mesjid Istiqlal bersama keong-keong Kebun Raya (yang ia tetaskan) karena melahap tanaman-tanaman air.”

“Selain itu ada kodok sawah yang amat jempolan lompatannya, dibawa dari kecil. Ia duduk diatas daun teratai liar (lelie kata orang Belanda) suka bersembunyi, menjadi besar sampai bisa bunyi, ada keuyeup (kepiting air tawar), tapi mereka menghilang. Ayah justru senang melihat kesenangan warga yang mau tumbuh dan betah tinggal, suka singgah di kebunnya, Ada capung yang singgah. Kepompong capung rupanya menakutkan, ganas dalam air. Pernah ada laba-laba berwarna indah diatas kolam. Kampret juga pernah singgah dan burung-burung bersarang berceloteh di pohon-pohonnya. Putri malu yang ditanam di pinggir kolamnya seakan-akan pohon yang dengan indah merunduk kedalam kolam. Ia sayang, menikmati pesona ‘hutan dan rawanya’ serta belajar apa yang diajar alam padanya: ‘yang kuat memangsa, mematikan yang lemah’.”

“Disitu juga kuburan anjing-anjing kesayangan kita”. kata ibu.

Hangat, akrab, bahagia bersama anak-cucu, pak Arif merayakan ulang tahunnya dengan membakar sate di kebun. Mmmm. Harumnya membangkitkan selera makan. Lalu membakar jagung, minum sekoteng. Penerangan bulan, bintang-bintangnya redup, anginnya sepoi-sepoi, sejuk. Sayup-sayup terdengar hiburan gamelan Sunda dari kaset. Puas dengan hadiah sandal baru, girang bagi tanamannya yang mendapat pupuk dan tanah baru, siapa masih mau dibujuk berulang tahun di restoran, atau ke luar negeri? Ha, ha, ha. Begitu kata pak Arif pada isterinya.

Suara Karya, 15 Maret 1996

Catatan
Anda dapat membaca seluruh tulisan yang ada dalam Bahasa Indonesia dengan “scroll” jauh kebawah mencari “Categories” di sisi kanan dan click “Bahasa Indonesia”.

wtslog(‘al11554′,’2′,’http’);

Web-Stat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.