Sang Tamu
Sang Tamu
Tidak ada pemandangan istimewa seperti pegunungan, danau, sungai dihadapan saya. Tetapi dimana saya duduk tampak suatu hutan menakjubkan dengan pakis-pakis raksasa, semak-semak, pohon-pohon aneh, begitu segar, begitu hijau. Saya berada di sebuah desa. Saya melihat gadis-gadis manis dengan pakaian dadu, begitu mungil, murni, ayu, ada yang berpakaian putih atau biru. Saya buka, meletakkan bungkusan piknik saya di atas tanah. Betapa sedap pemandangan itu sambil makan pelan-pelan.
Datanglah si hitam, besar, si nakal, jalan dengan ceria, percaya diri. Ia mengendus-endus di udara. “Silahkan!” saya kata dalam hati. Ia melihat makanan begitu berlimpah, mencoba, memeriksa di sana-sini, lalu tanpa permisi, tanpa ragu, dengan gembira, ia mengambil, menggendong sepotong lauk besar, membawanya terhuyung-huyung kedalam hutan lagi. Begitu saja, tanpa menghaturkan terima kasih, tanpa pamit. “Terima kasih Pak Semut atas kunjungannya dan ikut ambil bagian dalam pesta makan ini.”
Betapa saya bersyukur menemukan suatu dunia kecil yang begitu indah hanya di atas beberapa jengkal tanah di depan kaki, mata saya.
“Ah, itu mah rerumputan” kata seseorang.
Mei 2009
Catatan
Anda dapat membaca seluruh tulisan yang ada dalam Bahasa Indonesia dengan “scroll” jauh kebawah mencari “Categories” di sisi kanan dan click “Bahasa Indonesia”.
// BEGIN PARAMETERS
var page_name = ‘#’;
var invisible = ‘#’;
var text_counter = ‘#’;
// END PARAMETERS
wtslog(‘al11554′,’2′,’http’,page_name,invisible,text_counter);
