Sang Reformator
Sang Reformator
Patung yang paling bagus (bagi saya) di
Jakarta adalah patung Arjuna bersama Kreshna yang mengendarai kereta perang ditarik delapan ekor kuda di ujung Jalan Merdeka Barat. Betapa ia menggugah hati orang yang memandang karya itu berlama-lama.
Arjuna baru melepaskan anak-panahnya kelangit, memerangi, membasmi roh-roh jahat yang bergentayangan di bumi yang membisiki, merasuki, meracuni, menghantui hati manusia. Kala roh-roh itu lewat di antara rakyat yang hidup bahagia dan ceria, kerusakan, onar terjadi dan air mata mengalir.
Kisikan iblis sih, membawa sesat, kalau bisikan Tuhan mah, membawa berkat, pikir si upik. Dan saya jadi teringat pak Arif berkata: “Saya tidak merasa tersinggung tuh, kalau orang menginap di hotel berbintang lima, memiliki rumah seperti istana, memiliki puluhan perusahaan raksasa, bisa keliling dunia, makan stik, es krim setiap hari dan saya tidak. Kaki saya saja lebih berharga dari sebuah Mercy, badan saya malah melebihi stasiun ruang angkasa. Selera, kesehatan, kebebasan saya mengubah sebungkus makanan tahu,
tempe, sambal, lalap menjadi makanan dewa.
Tidak pusing-pusing, terima kasih ada orang-orang yang mengejar, bersaing, sibuk mengurusi soal pemerintahan demi memperbaiki negara kita. Saya begitu kaya, apanya yang mau dicemburui? Bukan nyombong nih, kalau merasa amat kaya, memikir begitu, ha, ha, ha. Itu
kan berkat apa yang dibisiki alias dikasih tahu Tuhan pada saya.” Padahal pak Arif paling banter bisa membeli sepeda. Maklum, kekayaannya bukan sekedar harta benda semata.
Dan dimana kereta itu lewat, dimana kuda-kuda menapakkan kaki mereka, di sana pula keluar mata air jernih yang mengalir, menyuburkan, menyegarkan, menghijaukan tanah; bunga-bunga berkembang, pohon-pohon berbuah, padi menguning, meski itu semulanya daerah bebatuan besar yang amat gersang.
Jika mereka melewati diantara puing-puing bekas pembakaran, di situ terjadi pembangunan, jika mereka melewati pemukiman kumuh, disitu rakyatnya menjadi berkecukupan, makmur, tiada lagi derita, iri, dengki, onar, fitnah, isu, jika mereka singgah di kantor instansi-instansi, disana tidak ada lagi yang dinamakan KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme) dan entahlah mereka pergi kemana lagi.
Mengikuti bisikan Ilahi, Arjuna berkeliling seluruh wilayah membawa berkat, demi membangun negeri idaman, Indraprasta agar hidup rakyat bahagia dan damai. Eh bukan … “itu mah Sang Reformator yang sedang membangun
Indonesia permai!!” kata batin dan saya pun terlonjak, terjaga dari lamunan. Ah, sedih benar kalau itu hanya ada dalam lamunan dan menjadi sebuah impian belaka.
Suara Karya, 24 Agustus 1998

