Sang Pemulung Dan Warga Sebangsanya
Sang Pemulung Dan Warga Sebangsanya
“Syukur kalau orang mengirim bantuan untuk para korban bencana alam Flores dan korban banjir.” kata Sang Pemulung.
Memang, ia dan warga yang senasib dengannya tidak kehilangan rumah, ternak, sebab bagaimana bisa kehilangan, karena tidak sedikit diantara mereka tidak memiliki “kandang” dan tidur pun terpaksa di emperan toko atau di kolong langit. Terbiasa “berpuasa” sepanjang tahun, jauh dari orang tua, sanak-saudara, mereka hampir tidak memiliki harta benda, apalagi ternak. Dan mengapa bukannya ditolong, diadakan dompet masyarakat untuk mereka, atau pergelaran musik, baca puisi, atau penjualan, pelelangan karya, benda seni dengan judul menggugah seperti ”Heart for Flores, Art for Flores“.
“Boro-boro,” kata Sang Pengasong, Mang Ketoprak. “Orang tidak jarang ditimpa bencana kehilangan sumber mata pencaharian, digusur tempat tinggalnya, disita kotak atau gerobak dagangannya, dikejar-kejar Tibum (petugas penertiban umum) demi ibu-kota yang ber-BMW alias Bersih, Manusiawi dan ber-Wibawa.”
Lain dari yang ber-uang. Serba kekurangan membuat warga ini bersyukur dengan perolehan sebungkus rezeki, sebuah gerobak kerja, bersyukur dengan sebuah pojok, pondok untuk berteduh, bak rerumputan yang bersyukur dengan datangnya setetes embun, mendapat tempat tumbuh di sela-sela bebatuan, di
celah tembok, di pinggir jalan, yang terinjak, terkena pembersihan. Tidak seperti bunga anggrek atau bunga mawar yang terhormat, yang mendapat tempat di taman.
Lalu, apa bedanya? Bumi sama menghidupi mereka, surya sama mengecup, hujan sama memberkati mereka.
Kebahagiaan juga mampir pada orang-orang miskin. Meski serba kurang, makanan sedikit saja sepertinya berlimpah dan tempat sesempit apapun sepertinya luas dan mewah. Ah, manisnya saling berebutan, bertengkar untuk memberikan, merelakan, ”jatah” mereka yang sudah begitu kecil pun, demi pasangan dan anak mereka.
Kalau bagi yang ber-uang dalam keadaan yang berlimpah, apanya yang perlu direlakan atau dikorbankan? Dan uang tak mampu membeli kebahagiaan.
Lebih suka memilih hidup merdeka dan mandiri ketimbang harus mengemis, daya juang mereka untuk mempertahankan hidup bahkan membaja, karena ditempa alam lingkungan yang tidak bersahabat.
Media Indonesia, 6 Maret 1993