Sang Pemimpin Paduan Suara Memantun
Sang Pemimpin Paduan Suara Memantun
Gelisah, hatinya ciut, ia tidak bisa enak makan, tidur, menghadapi pukulan yang bertubi-tubi. Penyanyi utamanya sakit, tidak bisa ikut menyanyi justru pada saat pementasan, lalu beberapa penyanyi-penyanyi lain tidak bisa hadir lagi, lalu permainan organnya setelah latihan begitu keras masih tetap ada salahnya. Terbayang paduan suaranya menuju bubar dan ia melamun.
Teringat ketika Abraham menanyai Tuhan apa Ia akan memusnahkan
Sodom dan Gomora, entah, kalau masih ada
lima puluh orang saja yang baik-baik.
Andaikan Tuhan sebaliknya, menanyai dia apa dia akan membubarkan paduan suaranya, kalau Ia membuat penyanyi-penyanyi utamanya satu per satu berhenti dan meninggalkannya? Apa yang akan ia putuskan? Membubarkan paduan suara dengan anggauta-anggauta paling lemah yang tersisa sebanyak sepuluh orang ini?
Si Dietje berkata, “Jangan. Kita rela berlatih tiga kali seminggu bukan dua kali saja, kalau itu perlu.” Tersentuh mendengar kata-kata yang membesarkan hati keluar dari mulut anggauta yang tergolong lemah ia berkata, “Baik. Yah, saya akan membuat kalian dengan pertolongan Tuhan menjadi penyanyi-penyanyi bagus sebagai ganti mereka.”
Lalu kalau Tuhan membuat semua anggauta satu per satu meninggalkannya, sampai tinggal si Nootje. Nootje hanya melihat dengan mata penuh percaya, tanpa ragu padanya seperti anak kecil, atau anjingnya yang juga menatapnya dengan penuh percaya di saat sesuatu mengancam, menghadang mereka. Langsung keberanian dan kekuatannya pulih, bahkan berlipat ganda dan ia siap menghadapi bahaya, rintangan, kesulitan sebesar apa pun untuk melindungi anjing atau anak kecil itu..
“Lanjutkan terus,” kata Nootje. “Kalau perlu Nootje rela berlatih bukan tiga kali saja melainkan empat kali atau lebih dalam seminggu.” Baik, ia membatin. Ia akan melatihnya, si “anak bawang” sehingga menjadikannya penyanyi solo yang bagus.
Tersentak dari lamunan. Nah, sekarang saja anggautanya masih sekitar dua puluh orang. Mengapa mesti resah? Sang pemimpin terhibur. Mengapa gelisah kalau baru sekali gagal mengiringi lagu dengan baik? Seribu kali gagal pun tak akan membuatnya jera kalau mengingat semangat mereka dalam lamunan. Ia juga rela berlatih dua, tiga kali lebih banyak dari biasaannya.
Paduan suara tentu tidak akan bubar, meski anggautanya tinggal satu orang saja, kalau mereka rela “menawar keatas”, jika semangat, jiwa muda mereka tidak gentar menghadapi kesulitan dan ingin maju. Tetapi kalau anggauta-anggauta paduan suaranya “menawar kebawah”, seperti meminta-minta, mengemis-ngemis keringanan, kemudahan lagu-lagu, pengurangan latihan dan takut menghadapi kesulitan, kegagalan, paduan suara macam itu tentu bubar dengan sendiri, tanpa dapat ditahan-tahan. Biarin aja. Dan ia memantun:
Jika iman paduan suara saya seperti gubuk,- Demi Kemuliaan Tuhan – biarlah ia lekas ambruk.Jika iman paduan suara saya sungguh teguh, Biarlah seribu taufan mengamuk. September September 1999