Sang Pelukis, Sang Gadis Dan Sang Nelayan
Sang Pelukis, Sang Gadis Dan Sang Nelayan
“Seniman kok dibunuh. Dia itu tokoh panutan.” begitu kata seorang yang berduka, karena kehilangan pelukis Basuki Abdullah, dan bersama dia, segenap masyarakat yang menyayanginya.
Saya teringat kisah Anne Frank, – seorang gadis, korban Perang Dunia ke dua – yang begitu mengharukan. Buku hariannya bahkan sampai menyebar ke seluruh penjuru bumi. Orang seakan-akan tidak rela kalau nasib buruk – jika boleh disebut demikian – justru harus menimpa mereka yang disayangi dan dihormati.
“Namun, tunjukkan seorang saja, – yang paling tidak berharga – yang kita ‘voniskan’, menggantikan mereka. ‘Oh, Tuhan’ doa Sang Nelayan sesaat sebelum mati di telan dalam badai di lautan. Dan pikiran terakhirnya mengawang ke anak-bininya.”
“Ah, seperti hidup Sang Nelayan miskin itu, yang buta huruf, tak pernah mengangkat nama bangsa; hidup manusia yang dianggap paling hina, yang paling tidak berharga, yang tidak akan diberitakan dan diratapi masyarakat pun, sama tak ternilainya. Apa ia boleh, kita tega, ‘voniskan’ menggantikan mereka?”
“Tetapi Basuki Abdullah masih hidup dalam lukisannya, Anne Frank masih hidup dalam tulisannya dan Sang Nelayan masih hidup dalam kenangan anak-istrinya.” Begitu kata Pak Arif pada saya.
Jayakarta, 15 Nopember 1993
Catatan
Anda dapat membaca seluruh tulisan yang ada dalam Bahasa Indonesia dengan “scroll” jauh kebawah mencari “Categories” di sisi kanan dan click “Bahasa Indonesia”.
