Sang Juara
Sang Juara
Setiap kali mengunjungi orang tua, Hani dan saya naik bus ke Sukabumi. Udaranya segar. Begitu tiba, kami bagai disambut meriah, hangat ratusan bunga-bunga merah-dadu “ijverig liefje” ibu (pacar yang rajin) depan rumah di kebun, bak di pesta bunga saja. Meski ia menderita penyakit yang amat ditakutkan orang dan lemah, ialah yang mengurusi, menyirami bunga-bunga dan tanamannya. Oh, ia amat menyayangi tanaman-tanamannya. Disitulah kebahagiaan ibu. Rumahnya dikelilingi bunga-bunga dan tanaman. Ada bunga yang begitu cemerlang kuningnya, entah apa namanya. Boterbloem, bunga mentega? Ada terlalu banyak sehingga banyak yang luput dari pengamatan dan banyak pula yang saya tidak tahu namanya.
Yang terutama toh adalah mengenal, mengingat, menikmati keindahan bunga-bunganya, bukan murah, mahalnya, bukan pula asal tahu namanya karena amat banyak macamnya. Ibarat pandai mengingat ratusan, ribuan pengarang musik berikut judul-judul ciptaan mereka apa gunanya kalau tidak pernah mendengar dan menikmati musik mereka, meski itu cuma salah satu diantaranya? Begitu saya menghibur diri.
Betapa indah aneka pakis, chevelurenya yang tumbuh begitu saja diantara celah bebatuan. Yang muda beda daunnya dari yang tua. Atau beraneka jenis tanaman cactus dan tanaman “vet” di dalam pot-pot kecil menyerupai bunga-bunga dengan pasir sebagai tanahnya. Ada pohon blimbing, pohon den untuk natal. Ibu juga yang menyelamatkan sebuah batu sebesar mobil, ketika terancam “punah” di gerejanya.
Alangkah senangnya menginap disana. Lingkungannya serba tenang,teduh, bersih. Saya biasa memakai celana pendek saja tanpa sandal atau sepatu kalau jalan-jalan, main-main di jalan sekeliling rumah. Toh, sepi dan tidak ada orang yang saya kenal.
Ibu amat senang kalau kami mengunjungi. Kami sengaja tidak menyingung-nyinggung penyakitnya dan ia lupa, merasa segar, seakan-akan sehat, bahagia. Ia lalu bersemangat lagi untuk masak dan kami bersama ayah makan dan ngobrol berlama-lama di sekeliling meja.
Ah, sedih benar nasib tanaman ibu ketika ia meninggal karena penyakitnya itu. Siapa yang mau mengurusi mereka?
Suatu kali, ketika kami mau pulang ke Jakarta sore hari, semua bus penuh karena pas hari Raya. Penumpang terpaksa menunggu. Setiap bus tambahan yang dikerahkan langsung diserbu penumpang.
Kami beruntung bisa mendapat tempat karena kebaikan pak supir yang mengizinkan kami naik dari pintu darurat khusus untuk pengemudi.
Betapa gagah, tenang ia bertahta di belakang kemudinya. Ia menyulutkan sebatang rokok. Betapa sopan ia menyambut, memperlakukan para penumpang. Betapa sopan ia menolak penumpang yang menghentikannya di jalan. Betapa mudahnya ia melewati, menyusul kendaraan lainnya. meski jalan di waktu itu, sekitar tahun enam puluh delapan, masih sempit dengan banyak tikungan, tanjakan dan ramai. Apa lagi mengingat bus Mercy yang begitu besar dan penuh. Tiada satu pun kendaraan yang bisa menyusulnya. Penumpang tidak merasa tegang atau panik. Musiknya mengalun dengan lembut. Melihat ia mengemudi sudah merupakan suatu hiburan menyenangkan tersendiri.
Benar juga apa yang tertera di kaca depan “Sang Juara” saya membatin. Ia benar-benar seorang seniman mengemudi.
Kami sampai sekitar jam delapan malam, dan ia telah mengemudi sejak pagi. Meski diserbu penumpang yang mau ke Sukabumi, ia masih sempat mengucapkan, “Hati-hati dan selamat jalan,” ketika para penumpang turun dari pintu darurat di terminal bus Cililitan untuk melanjutkan perjalanan kami naik bus kota. Seharusnya jam lima sore tugasnya selesai. Ia tidak menunjukkan kelelahan, ia tidak bersungut-sungut, menggerutu meski ia masih harus melakukan perjalanan kembali ke Sukabumi. Tengah malam ia baru akan tiba dalam perjalanan yang berliku-liku di tengah malam.
Kangen pada anak-anak di rumah. Mereka sudah tidur. Oh, jarang sekali ada seorang supir yang melakukan tugasnya penuh wibawa dan dengan senang hati.
