Sampah di Monas
Sampah di Monas
“Biarin aja, buat apa ada tukang sapu, tukang sampah? Mereka toh dibayar pemerintah dan saya sudah membayar pajak kok.” pikir Sang Pengunjung Monas yang meninggalkan kulit kacang, kulit pisang, jeruk, botol aqua, kertas, plastik pembungkus berantakan begitu saja.
“Keterlaluan benar, pengunjung seenaknya mengotori Monas begini. Buat apa ada tong sampah.” kata mpok Awiti pada temannya, sesama tukang sapu wanita, ketika melihat sampah yang berserakan, ditinggalkan para pengunjung, terutama setelah hari Minggu dan hari libur. (Sampai sekarang pun, tahun 2008 masih begitu – penulis).
“Ssst. Justru kita kudu berterima kasih atuh. Kita mendapat pekerjaan menjadi tukang sapu. Syukur-syukur kalau kebiasaan pengunjung untuk ngotor menjadi ‘hobi’, lebih banyak lagi orang nganggur kudu kerja.” tawa ceu Ipok.
Saya jadi terkenang kunjungan seorang wanita dari luar negeri yang begitu berkesan. Ketika menjadi tamu kami dan menginap untuk beberapa hari, ia tak segan memakai sepeda butut saya. Maklum itu tahun lima puluhan, orang umumnya masih bersepeda. Waktu dikembalikan, sepeda dalam keadaan lebih bersih dari semula dan lebih layak pakai. Setelah pamit, istri ke ruang tidurnya untuk beberes. Tahu-tahu ruang dan tempat tidurnya malah sudah dibersihkan, dirapikan, sedangkan suatu kejutan manis menantinya. Bukan sampah, kekotoran yang ditinggalkan, sebagaimana kebiasaan banyak orang, melainkan sebuah bingkisan, ditinggalkan ditempat tidurnya sebagai tanda rasa syukur.
Kebersihan rupanya, tak bisa diperoleh dengan mengerahkan ratusan pembersih, menyediakan segerobak sapu, lusinan tempat sampah, melainkan dengan menghilangkan kebiasaan orang, masyarakat untuk mengotori dan membuang, meninggalkan sampah seenaknya bukan di Monas saja, melainkan dimana-mana.
Sinar Pagi, 22 April 1995