RUPUNG
RUPUNG
“Hujan lagi, hujan lagi.” mengeluh seorang penumpang KA Jabotabek. Seorang penumpang lain menegur: “Tidak hujan salah, orang ngomel kepanasan, kering-kerontang. Dikasih hujan, salah lagi, orang
ngeluh kebasahan, kebanjiran. Punya satu mobil, mau dua, sudah dua, mau tiga.
“ Sementara warga Jakarta, media massa gencar membicarakan, membahas musibah banjir. Bukan musibah, melainkan pesta banjir, kata anak-anak, remaja, karyawan, karena tak disangka-sangka banjir meliburkan mereka dari sekolah, kantor, pekerjaan dan memberi orang kesempatan berperahu di jalanan, menangguk rezeki dengan menyewakan payung, gerobak, mendorong mobil macet.
Terngiang-ngiang ucapan penumpang itu. Ia seakan-akan ingin mengatakan, bahwa kita tidak tahu beryukur dan mau menyalahkan Sang Pengatur yang tidak menyesuaikan rencanaNya dengan kehendak, selera, jadwal kita.
Banjir memang tidak memandang bulu. Yang sarang, tempat tinggalnya hanyut, tenggelam, ya mengungsi dan mencari perlindungan, tempat tinggal yang lebih aman. Manusia yang berakal tentu seharusnya lebih siap, lebih bisa menyesuaikan diri menghadapi banjir, kemarau panjang, bahkan menjinakkannya, ketimbang mengeluh, mengomel, mengutuk.
Dan saya teringat tanaman kaktus yang menyimpan air di daun-daunnya untuk bertahan dalam kekeringan di gurun pasir. Burung pinguin melindungi dirinya dengan bulu tebal di daerah kutub. Kalau saja manusia bisa membuat rumah tahan banjir,tahan gempa.
“Bisa. Membuat RUPUNG.” kata si Upik.
“Maksudnya?” tanya saya.
“RUmah impian, yang ngaPUNG di udara. Ha, ha, ha.”
Sinar Pagi, 12 Maret 1996