Resep Sang Guru
Resep Sang Guru
Lelah, cemas menanti zaman Reformasi dengan seribu satu janji per- dan ke-baikan bagi rakyat, bangsa dan negara. Tiada satu hari pun lewat yang tidak memberitakan perihal kecurangan, tuduhan korupsi, kolusi, nepotisme, fitnah, kekacauan, kekerasan, ketidak puasan, krisis, demo, penjarahan, kecaman, hujatan, ancaman, penculikan dan sebagainya.
Begitu hitam, busuk, buruk, bobrokkah pemimpin, bangsa, rakyat kita? Saya yakin tidak! Setiap orang tentu ada kebaikannya pula.
Saya jadi teringat resep Helen P. Mrosla, sang guru dalam buku “Chicken Soup For The Soul” dengan judul “All The Good Things”. Ia berhasil merukunkan kembali murid-muridnya yang tersinggung satu sama lainnya, dengan meminta mereka menuliskan hanya yang paling baik-baik saja dari sesama kawan sekelas mereka.
Berhari-hari resep itu mengiang-ngiang di benak dan saya pun melamun, seakan-akan melihat media massa, TV, masyarakat, pembaca, tidak seperti biasanya, bukan keburukan, bukan corengan – cukup sudah diberitakan -, melainkan justru menuliskan, memerinci, memberitakan, menayangkan, merenungkan kebaikan, keistimewaan, jasa apa saja yang teringat, terkenang, dari Megawati, Gus Dur, Amin Rais, Ali Sadikin, Kemal Idris, Ginandjar Kartasasmita, Kwik Kian Gie, Rudy Hartono, Susi, Joko, Christian, Yayuk, Ghalib, Habibie, Wiranto, ya ABRI, ya Mahasiswa, Prabowo, Nasution, Soekarno almarhum dll … ya, sampai H.M. Soeharto.
Dalam bayangan saya melihat Habibie merangkul dan mencium Sadikin, Kemal Idris, mahasiswa; Soeharto bersalaman dengan Mega, Amin Rais, Gus Dur bahkan dengan Soekarno; Wiranto diangkat ramai-ramai; Prabowo, ABRI berangkulan dengan mahasiswa…. sepertinya kita semua dalam suasana damai bak halal-bihalal.
Kesalahan, dosa mereka tidak membuat orang surut dan melupakan jasa, kebaikan mereka, melainkan tetap dikenang seumur hidup. Orang yang terbukti bersalah, tetap diadili dan dihukum, sebesar apa pun kebaikan, jasa-nya, sebab hukum tentu tidak memandang bulu. Kecuali kalau yang bersalah itu mendapat pengampunan dari Rakyat, sebagai penguasa tertinggi yang berjiwa besar. Alangkah baiknya kalau itu bukan lamunan semata.
Suara Karya 8 Pebruari 1999
Catatan
Anda dapat membaca seluruh tulisan yang ada dalam Bahasa Indonesia dengan “scroll” jauh kebawah mencari “Categories” di sisi kanan dan click “Bahasa Indonesia”.
