Rasa Betah

     Rasa Betah 

Saya mau rumah yang mungil, kebunnya luas, tembok-nya  berwarna pastel, tempat duduk,  mejanya  yang rendah,  tempat  tidur,  gordennya  yang   begini, dapurnya yang begitu, lampunya redup, kamar  mandi dan WC-nya … Pusing, selalu ada saja seribu satu keinginan yang lain yang mau diupayakan agar rumah dibikin menjadi lebih hangat, lebih betah didiami. Begitu keluh calon pengantin.  

Ah,  lihat saja sebagaimana digambarkan  di  buku-buku dengan desain interior yang hebat atau  rumah percontohan.  Tetapi  yang paling  penting,  tidak bisa ia dapati  dalam buku-buku atau rumah percon-tohan itu.   

Bukan di sangkar emas. Meski sempit, terbuat  dari anyaman  rerumputan  dan  kehujanan;  rasa  paling hangat,  rasa paling betah adalah tinggal  bersama anak-anak  dan pasangan di sarangnya, begitu  kata Sang Manyar. 

Rasa paling betah adanya di mana saja, di mana ada majikannya, kata seekor anjing. 

Di antara buku-bukunya kata Sang Profesor.

Di air, kata ikan. 

Bukan  di  rumah gedung orang  lain,  lebih  betah rasanya,  meski  di rumah bilik, kalau  itu  milik sendiri, kata seorang. 

Di mana saja, di mana ada Hawa, kata Adam. 

Rasa  paling betah adanya  diantara  anak-anaknya, meski itu di “neraka”, kata Sang Ibu.  

Nah,  di mana orang atau apa yang paling  dicintai kita  itu berada, disitulah firdaus,  tempat  yang selalu  kita rindukan. Disitu pula tempat di  mana kita  merasa diri kita paling betah, paling  kaya, paling  bahagia  di dunia. Begitu pesan  pak  Arif seingat saya.  Kalau  pun sedang kurang uang, rumah  kayu,  rumah bilik  bisa menjadi tempat yang paling  betah  di- tinggali.  Sofa,  bale-bale,  tikar  pun   menjadi paling  hangat  ditiduri. Ruang  kecil  sepertinya menjadi  luas,  sedikit  makanan  saja  sepertinya berlimpah dan menjadi hidangan yang paling  lezat. “Maksudnya?” tanya si upik. 

“Coba tinggal bersama dengan seseorang yang dibenci, yang tidak kita senangi.” kata saya. “Di  tem-pat enak pun, rasanya seperti neraka. Makanan  le-zat serasa pahit, gedung besar sepertinya  sempit, makanan   sebanyak  apapun,  sepertinya   sedikit, karena tiada lagi tempat, sudut kecil, sesuap nasi pun  yang  direlakan,  disisihkan  baginya.   Maka berdoalah  agar pasangan pengantin beruntung  bisa saling  menyayangi sampai usia lanjut. Siapa,  apa yang bisa mencegah hati manusia tidak berubah?”  

*Sang Penyair berkata,

Lebih hijau daun-daun menghijau,

Lebih manis rasa manisnya buah-buah,

Lebih cerah, cemerlang suatu hari,

Kala cinta berbicara. 

*Diterjemahkan bebas dari Die Jahreszeiten,Haydn.                                      

 Nopember 1997

wtslog(‘al11554′,’2′,’http’);

web counter

Leave a Comment

Required

Required, hidden



Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Pages

Categories

Links

Meta

Calendar

December 2009
M T W T F S S
« Nov    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Most Recent Posts