Rakyat Kecil Tidak Manja

Rakyat Kecil Tidak Manja 

Kalau bertamasya ke Bojong Gede, saya biasa pulang naik  kereta api (KA) ke
Jakarta. Alangkah  penuh­
nya. Namun bagi rakyat kecil, naik KA terasa  amat nyaman, meski harus berdesakan untuk masuk,  tidak
kebagian  tempat duduk, panas dan lama, karena  KA berhenti  disetiap  stasiun kecil. Naik  KA  lebih
murah  dari naik bus, yang sudah tergolong  kendaraan rakyat yang paling murah.
 

Tiada  penumpang,  meski ia seorang  nyonya  rumah tangga  atau  seorang mahasiswi  berpakaian  keren
yang cemberut, membuang muka atau mencibir  karena harus  membagi tempat dengan  abang-abang,  empok-
empok dan keranjang-keranjang. Atau harus melewati lantai kereta api yang becek dan kotor, apalagi di
musim hujan.
 

Meski kehausan, mereka jarang membeli minuman, kecuali untuk anak-anak yang masih balita. Jangankan
minum.
 Ah, sedapnya, meski hanya  bisa  menyentuh botol minuman dingin saja.
 

Seorang  ibu dengan anaknya  berseri-seri,  ketika tiba-tiba  bisa memperoleh tempat  duduk,  seakan-
akan ketiban rezeki. Dan kadang-kadang para penumpang dihibur pengamen buta dengan iringan  kecapi,
berpengeras  suara butut. Maklum,  seperti  Oshin, rakyat  kecil tidak manja dan tahan derita,  malah
bersyukur  bisa naik KA yang begitu  murah,  tanpa menuntut tempat duduk.
 

Sebaliknya, KA cepat yang menyusul kami di  sebuah stasiun,  begitu  kosong  gerbong-gerbongnya.   Ah
coba,  beberapa gerbong saja dialihkan ke KA  yang melayani rakyat yang berjubel begini.Namun  rakyat kecil tidak  akan  mengeluh,  meski bukan  penambahan gerbong-gerbong yang  diberikan,
melainkan  pengurangan.  Mereka tetap  tidak  akan kehilangan  akal  dan tentu mendapat  ilham  untuk
memperoleh  tempat  duduk, entah di  atap  gerbong atau  di  lokomotif, seperti  kehilangan  angkutan
becak  mengilhami para ibu untuk numpang ojek  dan kini  telah  pandai duduk sambil  membawa  sebakul
sayuran di pangkuan tanpa berpegangan.
 

Memang  rakyat kecil tidak takut kehujanan,  kepanasan,  kecapaian. Keadaan sempit  membuat  mereka
menjadi  berani. Tidak ada jembatan,  mereka  akan memilih  jalan di atas jembatan rel KA,  ketimbang
naik perahu penyeberangan.                                           
 

                                                                Berita Buana, 24 Pebruari 1993 

 


wtslog(‘al11554′,’2′,’http’);

web counter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.