Putri Diana

Putri Diana 

Hilanglah  selera bermain, kekuatan  berlari  para pemain  liga sepak bola Inggris, ketika  mendengar berita  kepergian putri Diana. Saya  hampir  tidak bisa  menelan,  kata seorang  ketika  diundang  di pesta  makan. Bagaimana saya bisa  bahagia,  meski menarik lotere hadiah utama, jika mengingat kepergiannya,  kata orang lain. Kalau pun  orang  tidak melihat  bendera-bendera  setengah  tiang,  ampirtidak  ada  satu orang pun yang  bendera  batinnya tidak setengah tiang. 

Dan  kalau  dipikir, ia  begitu  disayangi  banyak orang. Upacara, pesta pernikahannya seperti cerita dongeng dan mungkin yang terbesar dalam  abad ini, tinggal di  istana,  dikelilingi, dijaga,dilayani pejabat istana, indah pakaiannya, anggun  penampilannya, bak seorang dewi  di  kayangan. Namun, tiada yang tahu, meski ia  tersenyum, diam-diam, di sudut hatinya ia menangis, merana. 

Apalah  artinya mempunyai gelar “Her  Royal  Highness” tetapi hidup sebagai istri yang tidak  bahagia,  digosip,  dikejar-kejar,  disorot,   dibidik pemburu  foto  biadab.  Konon,  setelah  bercerai, kalau  bertemu  putra sulungnya,  aturan  kerajaan mengharuskannya  melakukan  ”curtsy”  (merendahkan diri  dengan menekukkan lutut), untuk  menghormati anaknya sebagai putra mahkota. 

“Induk  binatang  liar saja, dengan  bebas,  tanpa upacara  bisa mendatangi anak-anaknya, lalu  langsung mendekap, saling jilat- menjilat penuh  kasih sayang,”  kata  seorang ibu.  

Saya  teringat  Karna ketika diangkat menjadi raja Anga, melanggar aturan dengan  bersujud dihdapan kaki Adirata yang  hanya seorang  
sais  miskin,  berpakaian  lusuh, bapak angkatnya, dalam cerita Mahabharata.
 Putri Diana tak berminat menjadi ratu lagi. Selain sudah menjadi ratu di hati Dodi Al Fayed, pangeran
barunya,  ia  juga bahagia menjadi  ratu  di  hati rakyat. Bukan begitukah apa yang diimpikannya? 

“Tidak lebih bijaksanakah, bila orang menghormati­nya dengan menyenangkannya, dulu, ketika ia  masih hidup  ketimbang  menghormatinya  sekarang  dengan memamerkan  upacara  pemakamannya  secara   besar-besaran kalau ia sudah mati?” kata seseorang. 

Satu  per satu, orang Inggris, tua dan muda,  laki dan  perempuan,  datang  membawa  karangan   bunga tangan. Dengan air mata berlinang mereka  meletak­kannya di depan istana kerajaan.
Ada yang menyalakanlilin. Batin mereka berbisik,  berdoa,  ”Anda selalu hidup di hati kami.” 

Mereka  membawakan  bunga-bunga,  tetapi tak  sesuram  karangan bunga  untuk orang mati yang berwarna puth  dengan pita  berwarna  ungu, melainkan  bunga-bunga  yang terindah, hanya yang terindah, berwarna cerah  dan harum untuk Diana yang begitu disayangi. 

                                                      Pelita, 9 September 1997 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


wtslog(‘al11554′,’2′,’http’);

web stats

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.