Prakata

Wilujeng Sumping
Welcome
Welkom
Selamat Datang di Pondok saya:

                 http://chew.wordpress.com

Bon Jour

Prakata 

Judulnya:Bacaan Waktu Santai” karena membaca di waktu sibuk menjadi tidak nikmat. Isinya, semua tulisan saya yang pernah dimuat media massa. Di dalam prakata saya tulis bahwa buku itu dipersembahkan pada Arif yang menyememangati penulis untuk lebih mencari ilham, ketimbang mengejar uang. “Biarin ngga sukses cari duit, tapi sukses meraih si Upi dan berkenan dihatinya,”  kata Arif. Oh, Upilah ilhamnya.

Namun, uang juga amat diperlukan. Buat apa munafik. Apalagi kalau dompet sempit. Hanya orang beruang saja, merdeka menentukan apa yang ingin dibeli, direncanakannya. Memang jauh lebih enak, lebih sejuk, meski Cuma makan ikan asin, jalan kaki, tidur ditikar, ketimbang makan bistik, naik mobil, tinggal di vila, tetapi tidak merdeka dan bergantung pada orang lain. Karena merdeka menyiratkan harga diri, kedaulatan seseorang. Lebih baik menjadi kepala ayam, ketimbang menjadi ekor kerbau, kata peribahasa.

Dalam prakata saya ungkapkan rasa syukur saya kepada surat-surat kabar itu. Sebut saja yang mana; Sinar Pagi, Jayakarta,, Berita Buana, Neraca, Merdeka, Kompas, ya, hampir semua surat kabar yang terbit di Jakarta, termasuk yang berbahasa Inggris seperti Jakarta Post. Belum lagi yang di luar Jakarta, bahkan di majalah Moesson di negeri Belanda dan majalah resmi IVBF di Swiss.

Betapa banyak yang telah diberikan mereka dengan pemuatan, penyebaran tulisan-tulisan saya secara Cuma-Cuma, kalau satu millimeter kolom, taruhlah Rp. 5.000.- dan panjang satu tulisan sekitar 250 milimeter. Dihitung, saya juga termasuk jutawan besar.

“Sayangnya engga bisa dijadikan duit”, kata istri. “Lukisan Raden Saleh laku Rp. 5,5 milyar,” tambahnya.

“Maklum, belum zamannya.” bela saya. “Selain bekerja, pada zamannya. mainpun, seperti sepak bola, bahkan memukul orang, seperti tinju, bisa dijadikan tambang duit. Peraih hadiah Nobel dan mantan presiden Polandia, Lech Walesa saja rela kembali menjadi buruh dengan gaji sekitar Rp. 600. ribu sebulan”. 

Alangkah bahagianya kalau tak disangka-sangka menerima surat pembaca yang menyambut hangat salah satu tulisan saya. Sepertinya saya menerima hadiah dari surga. Biar, tak bisa menerima hadiah “Nobel”, tak sukses mencari uang, tapi sukses dan berkenan di hati pembaca, (meski itu Cuma satu orang). Buku ini menyajikan semua “masakan” saya. Smul (Eet) ze, kata orang Belanda. Selamat menikmati.

“Plak.” Saya tepak mata saya. “Aw.” Saya gigit lengan saya. Wow, betapa indahnya bahwa ini bukan impian semata. Terima kasih pada penerbit ini yang mewujudkannya.

Begitu saya tulis dulu, 2 Pebruari 1997.

Tidak ada penerbit yang mau menerbitkannya.

Kini, sayalah penulis, editor, penerbitnya di internet. Terima kasih banyak pada ….. diri saya.

Alangkah bahagianya aku bahwa akulah aku, bukan Gandhi, bukan Multatuli;

Dan engkau pun bahagia, karena engkaulah engkau, bukannya aku;

Meski tak dijadikan anggrek, takkah ia bahagia dijadikan ilalang?

Setiap cengkrik pun bahagia, meski tak bisa berkicau  semerdu kutilang.

Dan setiap orang bahagia bahwa ialah orang, bukan malaikat, bukan binatang.

Inilah “kerikan” ku, cengkerik yang bahagia mengerik, baik disukai maupun tidak disukai.


Menyanyi merdu bak kutilang aku tak sanggup,

Meski aku diajari orang.

Tidak mengerik seperti cengkerik, aku juga tidak sanggup,

Meski aku dilarang.

wtslog(‘al11554′,’2′,’http’);

web stats

Leave a Comment

Required

Required, hidden



Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Pages

Categories

Links

Meta

Calendar

December 2009
M T W T F S S
« Nov    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Most Recent Posts