Pilih Guru Yang Mana?
          Pilih Guru Yang Mana?Â
         ”Gasnya injak sampai dua.” bentaknya, karena mobil yang mau dijalankan, mesinnya mati, mati lagi. Apa
         yang dimaksud kakaknya dengan “dua”? Disekolah mengemudi mobil, itu tak diajarkan. Dengan gugup ia
         mencoba start lagi.Mulai jalanlah mobil itu tersenÂdat-sendat lalu “grek”, melindas roda sepeda yang
         sedang diparkir digang sempit itu, karena ia dibuat  bingung dan Rp 50.000.- melayang sebagai ganti
         rugi. Wajah kakaknya makin muram dan sepertinya  mengumpat: “Goblok, tolol.” Memang, begitulah cara
         mengajar murid dari bisa menjadi enggak bisa dan  membunuh semangat belajarnya. Mentang-mentang ia
         sudah mahir. Dia mungkin sudah melupakan kebodohan, kegugupannya, ketika dulu juga baru belajar
         stir mobil.               Lain lagi Dorna sebagai guru.          Menyaksikan kehebatan Arjuna yang terlibat pertaÂrungan dahsyat dengannya dalam perang Bharatayuda,
         Dorna malah menikmatinya. Ia bangga dan bahagia melihat ketangguhan murid  kesayangannya yang paling
         berbakat, karena kecemerlangan anak-didiknya, cerÂmin dirinya sendiri.Â
         Hati  dua  ibu yang ingin menjadi  anggauta  paduan suara  gerejani menangis. Dengan perasaan  iba  dan
        hati teriris-iris pemimpin paduan suara  menyatakan mereka  terpaksa tidak lulus. Wow, sulitnya          mengaÂjarkan  mereka hal yang begitu  ”gampang”,  seperti menyanyikan  not-not  angka  dengan  benar,   bagai
        sulitnya  mengajarkan lumba-lumba  bermain  sirkus.
       Alangkah  bahagianya mereka ketika akhirnya  pandai dan lulus, dan bukan diluluskan karena  dikasihani.
       Tetapi lebih bahagia dan bangga adalah pemimpin paduan  suara itu karena justru ialah  yang  merasa                         diuji  dan lulus mengajarkan anggauta yang  paling lemah menjadi pandai. Â
     “Jika murid tak lulus terus menerus, mungkin  bukan muridnya yang tak becus, melainkan gurunya yang tak
     mampu  membuatnya  menjadi  becus.  Kalau  mengajar murid  cerdas,  apa  kebanggaannya?  Mozart  bahkan
     melebihi guru-gurunya di bidang musik,” katanya.               Lalu, tidak hebatkah guru yang seluruh kepandaian, pengetahuan, ia wariskan dan tidak takut dilampaui
      muridnya, malah bahagia jika anak-didik bisa melebihinya? Atau seorang guru yang tak pernah mengguÂrui?
    .                     Berita Buana 15 April 1993
