Piknik Ke Kali Cikundul
Piknik Ke Kali Cikundul
“Bawa yang enak-enak apa ya, kalau mau piknik ke kali Cikundul?” tanya bu Lani pada pak Johan, mertuanya. Mereka sekeluarga termasuk si Unyil berikut susternya akan ke sana. “Jij mesti bawa bekal een goed humeur.” pesan pak Johan pada mantu perempuan, alias membawa perangai, bawaan yang ceria dan menyenangkan. Mereka sedang liburan tahun baru di Cimacan.
Melihat si Unyil, cucunya begitu senang, betah bermain di kali, pak Johan jadi terkenang ketika anak-anaknya dulu juga bersamanya berpiknik dan main, mandi di kali Cisadane di daerah Cengkareng. Kala itu airnya masih bersih. Atau di kali Cikaniki di Sadeng Jambu atau di kali-kali lain, lupa namanya. Ia mesti bersepeda atau naik bus, membawa anak-anaknya, menginap di rumah warga desa.
Kini anaknya naik mobil, menginap di vila kecil sendiri dengan seluruh keluarga dan membawa si Unyil naik pesawat terbang ke Bali. Namun demikian, kesenangan anak-anaknya dulu, meski dalam keadaan susah, tidak kurang sedikitpun dari kesenangan, keasyikan cucunya sekarang yang serba mewah. Pak Johan tersenyum.
Pulang dari kali Cikundul, bu Lani menggoda iparnya, “Wow, kecil-kecil kalinya, airnya mah deres. Di mall, kita-kita bisa bergaya, nampang keren berjalan-jalan membusungkan dada, ‘Lu sih, merangkak-rangkak, duduk nangkring di atas batu doang. Para peragawati yang cantik-cantik boleh aja berlenggang-lenggok di catwalk (panggung peragaan busana), tapi coba disuruh jalan di kali, kalau engga merangkak-rangkak, merayap ketakutan, gemeter kedinginan. Ha,ha,ha. Wow, anak-anak desa mah, engga pake baju, sepatu, enak aja jalan, main-main atau melompat-lompat dari batu ke batu, engga kedinginan.”
Pelita 15 Maret 1999
Catatan
Anda dapat membaca seluruh tulisan yang ada dalam Bahasa Indonesia dengan “scroll” jauh kebawah mencari “Categories” di sisi kanan dan click “Bahasa Indonesia”.
