Pesan Sang Pemimpin Paduan Suara

 Pesan Sang Pemimpin Paduan Suara 

Orang tidak dikenal dari kata-kata, janji-janjinya, melainkan dari perbuatannya, perangainya.  

Diam-diam, bak tangan-tangan malaikat-malaikat, saya bersyukur;

Kalau tak disangka-sangka datang bantuan untuk konser ini, bagai.rejeki nomplok yang membesarkan hati, bagai air, angin sejuk, bagai menemukan oasis di gurun pasir.   

Kalau berkat mereka yang diam-diam merekam, membuat Video, meng-copy, mengedit berhari-hari, meng- CD- dan meng- VCD-kan konser ini, kini kami selalu akan hidup For Ever, kapan saja kami memutar Videonya kembali.  Tanpa mereka, konser-konser kami akan For Ever Gone 

Tidak banyak orang berani mengakui bahwa dirinya itu hebat, tetapi saya berani. Tapi bukan untuk diadu atau dibanding-bandingkan. Saya percaya Sang Maha Kuasa menciptakan saya hebat, sangat hebat, dan … juga saudara-saudara, dan … setiap orang, dan … setiap makhluk, bahkan setiap kehidupan, setiap ciptaan.. Tak pernah disangka, diimpikan, kami bisa menjadi begini. Kami tentu tidak berani kalau tidak mempunyai keyakinan begitu dengan mulai belajar, berlatih diatas umur setengah abad, kami yang buta musik,  tanpa pendidikan, gelar musik.  

Teringat kata-kata Schiller:

Soll das Werk den Meister Loben.

 

Sang karya yang memuji Sang maestro. Ibarat masakan enak yang  memuji juru masaknya (bukan pujian orang-orang). Mustahillah kalau ciptaannNya tidak sangat, maha hebat. Kalau ciptaanNya tidak hebat, tentu Dia tidak hebat. 

Betapa luar biasa orang cacat sekalipun. Ia tidak canggung dan dapat melukis dengan mulut atau kaki.  

Never too old to be young. Never too late to improve yourself. Better late than never.

Anda tak pernah terlalu tua untuk merasa muda. Anda tak pernah terlambat untuk memperbaiki diri. Itulah kami, orang-orang di atas setengah abad, mulainya di usia senja memang, tetapi lebih baik dari pada tidak pernah mencoba berlatih, belajar nyanyi seumur hidup. 

Kata Burung Bulbul (Nachtegaal dari Andersen) pada Sang Kaisar:

Paduka telah membayarnya, melunasinya. Ketika aku menyanyi, aku melihat air mata-mu berlinang. Itulah, hadiah, permata terindah yang didambakan setiap penyanyi. 

Saya tidak tahu apa ada nyanyian yang berkenan di hati saudara-saudara, karena kami masih terus belajar, kalau ada, meski itu hanya di hati satu orang, meski itu hanya satu lagu, itu terima kasih, hadiah terindah bagi kami, jauh melebihi ucapan beribu kali terima kasih. Itu terima kasih yang paling terima kasih,  itu sudah ditebus, dilunasi, dibayar kembali melebihi uang. 

Sekian 

Begitu pesannya selesai mengadakan konser kecilnya.  

1 Oktober 2005.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.