Pernikahan Yang Lebih Manusiawi
Pernikahan Yang Lebih Manusiawi
Semula, Sang Putri merasa dirinya lebih ratu dari ratu dan Sang Pangeran, orang yang paling bahagia serta terkaya didunia. Alangkah indah dan manisnya semasa itu.
Siapa sangka kalau perasaan seorang setelah menikah, bisa berubah Kalau Sang Pangeran yang begitu tampan dan hangat semasa pacaran lambat laun juga bisa mendingin, menjadi tua atau menakutkan seperti “monster”? Bukan seperti dalam dongeng dimana Sang Monster yang baik hati, menjelma menjadi Pangeran, bagai kepompong menjadi kupu-kupu.
Salahkah seorang kalau ia tidak diciptakan, dikaruniai dengan kecintaan dan kesetiaan yang tidak meluntur, bak burung merpati? Kalau ia tidak kedap atau kebal terhadap kecantikan, ketampanan, kehangatan, rayuan orang-orang disekelilingnya. Meski ia telah bersumpah, berikrar untuk sehidup dan semati sebagai suami atau istri satu-satunya. Andaikan ada orang yang merasa dirinya lebih baik, lebih hebat, lebih super, silahkan memvonisnya.
“Memangnya saya buta, tuli, engga punya perasaan, mesti menyukai satu pengarang, satu pencipta musik, satu macam makanan, satu macam tanaman saja, mana tahan? Ha, ha, ha.” komentar seseorang.
“Ah, memang kamu mata keranjang.” Sahut sang pacar.
Aalangkah baiknya jika pernikahan merupakan sarang cinta sepasang insan yang lebih manusiawi tanpa sumpah-sumpah, ikrar-ikrar muluk-muluk dihadapan Tuhan, serem, “kejam”, ikatan tertulis dihadapan hukum dan menjadi jebakan atau pajangan di sangkar emas. Apalah harganya pernikahan yang berlayar aman, sentosa, tanpa pernah diamuk taufan, cobaan kehidupan?
Bisnis Indonesia 15 Juni 1993
Catatan
Anda dapat membaca seluruh tulisan yang ada dalam Bahasa Indonesia dengan “scroll” jauh kebawah mencari “Categories” di sisi kanan dan click “Bahasa Indonesia”.
