Perangi Perbuatan Buruknya, Bukan …

Perangi Perbuatan Buruknya Bukan … 

“Betul, di zaman dulu, kadang-kadang anak nakal diancam dengan dilumuri cabe rawit atau tahi ayam ke mulutnya, di kerem, dipecut, gebukin, engga  dika­sih  makan, … oleh orang tua yang jengkel.  Nah,
apa lalu anak-anak juga harus berontak dan  mendirikan  gerakan  anak-anak  yang anti orang-tua, semacam gerakan yang anti ini atau itu?  Syukur tidak ada”, kata pak Arif.
 

Andaikan dibujuk masuk gerakan anak anti orang-tua, tentu ada yang mengatakan: “Kita engga bermusuhan kok.  Papi,  mami  dari  Christi,  Stephen, Angie,  Jason, Justin malah paling baik  diseluruh
dunia,  yang  paling disayangi, dan tak  mau  kita tukar dengan papi, mami lain. Biarpun kita kadang-kadang diomelin, dipukul, dijewer atau dicubit.”
 “Buat apa anak mendirikan suatu gerakan yang  memerangi,  bermusuhan  dengan orang-tua?  

Yang  perlu dimusuhi,  diperangi, bukan  orang-tua,  melainkan perilaku yang keterlaluan terhadap anak oleh siapa pun.  Ibarat  yang harus dimusuhi  bukanlah  orang kulit  putih,  melainkan aturan-aturan yang tidak manusiawi, perbudakan,   apartheid, diskriminasi,   yang  bisa  dilakukan  orang  kulit berwarna apapun. Yang harus diperangi, bukan  kaum majikan,  bukan  kaum  pria,  melainkan   perilaku buruk terhadap buruh, bawahan, kaum feminin, anak dan siapa pun, yang tidak manusiawi. Yang  melanggar Hak-Hak Azasi Manusia”, katanya. 

 “Wow,  alangkah manisnya, seandainya pada hari  Wanita,  kaum wanita merayakannya justru dengan menyediakan kejutan istimewa yang menyenangkan  bagi kaum Pria.”  

Pak Arif berbisik kepada  saya: “Ketimbang merayakannya dengan  tun­tut-tuntutan  dan memperingati, mengumpulkan, membeberkan  segala dosa, keburukan kaum pria  habis-habisan seperti kadang-kadang ditulis dalam surat kabar. Seakan-akan hanya Pria saja yang bisa berperilaku seburuk itu. Malu dibuatnya saya dan orang-orang sebagai laki-laki. Kebetulan saja pelaku buruk itu laki-laki. Dan pada hari Pria, – sayang tidak ada  - sebaliknya,  kaum Adam menyediakan suatu kejutan, suvenir manis bagi kaum Hawa. Laki, perempuan tidak diciptakan untuk menjadi saingan, musuh seperti kucing dan anjing …” 

Si upik nyeletuk: “Laki-laki antara  kaum laki-laki saja bukan laki-laki, perempuan antara kaum perempuan saja bukanlah perempuan, melainkan … kegersangan padang, gurun pasir, malam gelap gulita tanpa bintang, ha, ha, ha.” 

Dan  saya  lalu teringat ruang  iklan  orang-orang laki-laki, maupun perempuan yang mendambakan perjodohan. Bersatu, wanita, pria, anak, menjadi keluarga bahagia.                                        

Jayakarta, 28 Juli 1995   

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.