Pendidikan Tinggi Untuk Siapa?

Pendidikan Tinggi Untuk Siapa? 

“Saya  bersyukur pemerintah  menyediakan  Perguruan Tinggi  Nasional (PTN) yang murah.  Tetapi  dengan seleksi  yang begitu ketat dan begitu berat,  cuma  mahasiswa-mahasiswa  yang tergolong paling  unggul saja yang berhasil.  Apa lalu yang dianggap kurang cerdas, yang biasa bahkan yang bodoh, tidak berhak atas pendidikan tinggi itu?  

“Syukur masyarakat membuka Perguruan Tinggi  Swasta (PTS)  untuk membantu pemerintah menampung mereka yang  tidak diterima di PTN. Tetapi  selain  harus lulus  tes, mampu membayar uang pangkal  tinggi, hanya  mahasiswa-mahasiswa yang berduit saja  yang bisa masuk PTS. Apa lalu yang kurang berduit, yang miskin tidak berhak atas pendidikan itu? 

“Salahkah  saya, orang, jika tidak dikaruniai  otak yang cemerlang, atau sekurang-kurangnya  mempunyai orang tua berduit?” Begitu cerita Jumadi mengapa ia tidak  melanjutkan  sekolahnya, anak  lulusan  SMA yang menjadi loper koran di sebuah pojok  Jakarta.

“Tidak apa kok, sambil menanti pekerjaan yang lebih baik. Si Doel yang menjadi sarjana saja, juga cuma nyupir oplet,” katanya. 

Dan  saya  lalu teringat zaman  generasi  saya  di sekitar  tahun  lima puluhan,  generasi  Sumarlin, Emil Salim yang berhasil menjadi menteri,   ketika setiap  lulusan SMA waktu itu berhak  masuk  suatu perguruan tinggi. Tanpa ujian masuk lagi.  tanpa  uang   pangkal. 

“Generasi  bapak amat beruntung, karena  peminatnya tentu  masih sangat sedikit.” kata  Jumadi.  “Tetapi kalau peminatnya membeludak dan tempat yang tersedia  terlalu sempit, terbatas, jangankan yang kecerdasannya normal, calon mahasiswa yang amat cerdas, cukup berduit pun, tentu banyak yang gagal.” 

Dan  saya  melamun, mendambakan  zaman  pendidikan tinggi bisa di Internet-kan sampai ke  pelosok-pelosok bumi. Terbuka,  terjangkau bagi setiap orang, baik  bagi yang bakat unggulan maupun yang bukan bakat unggulan, bagi yang lulusan maupun yang bukan lulusan SMA, dimana pun, tanpa membeda-bedakan. Bayangkan, mahasiswa fisika mengikuti suatu mata kuliah  sastra, drama, atau seni lukis yang disenangi. Wartawan,  karyawan, perencana kota, polisi,  awam,  ya setiap  orang bisa  mengikuti  mata  kuliah  yang paling  diminati, entah itu dari U.I. Depok,  Harvard, atau Tokyo. Bukan macam inikah yang dimaksud dengan  pencerdasan  bangsa,  ketimbang  memberat-beratkan, membatas-batasi orang  dengan  berbagai macam saringan masuk?                                         

Sinar Pagi, 11  Juli 1995   

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.