Pemilihan Iklan Terburuk
Pemilihan Iklan Terburuk
“Entah mengapa, setiap kali munculnya iklan itu di TV, pikiran saya melantur ke pemilihan iklan terburuk? Tentu iklan tersebut bisa masuk nominasi. Siapa tahu bisa dinobatkan sebagai juaranya.
Ha, ha.” tawa si upik. Tetapi iklan apa dan iklan yang mana, orang tidak boleh tahu. Itu rahasia “dapur” si upik agar tidak mau menyinggung fihak yang punya.
Saya jadi berpikir. Andaikan pemilihan macam itu diadakan, orang tentu tidak mau iklannya dinominasikan sebagai iklan terburuk dan berusaha iklannya tidak norak, malah membuatnya sebaik mungkin, agar pemirsa senang, tidak jengkel melihatnya.
Kalau istri paling suka iklan ”Aku dan kau“, karena sang aku, katanya, sederhana dan ”cakep“, sedangkan saya senang melihat iklan di mana sang pilot beruntung bisa selamat mendarat dengan
pesawatnya yang “pincang“, lalu beruntung lagi, tidak jatuh ke laut melainkan selamat jatuh dijaring.
“Sayang, andaikan saya yang membuat iklan itu akan saya membuat sang pilot jatuh, jatuh terus, tahu-tahu bukan jatuh ke dalam laut, melainkan jatuh ke dalam, coba tebak, … pelukan kiper, eh pelukan
si jelita.” kata si upik. Betul, pikir saya. Itu baru benar-benar beruntung atau ”lucky”. Bukan hanya selamat dari malapetaka, eh malah kejatuhan bulan.
Berita Buana,13 Agustus 1996

Nov 21, 2009 @ 12:49:22
seharusnya iklan di tv itu harus ada unsur sopan dan mendidik.