Pak Tukang Kebun
Pak Tukang Kebun
“Betapa indahnya kebun ini? Bagaimana bapak membuatnya?” Begitu saya tanya pada Pak Tukang Kebun dan begini ceritanya:
Allah mengaruniai saya sebidang tanah. Hujan datang, matahari menyinari, angin membawa benih-benihnya yang tumbuh, halus bagai lumut. Saya menggali sumur untuk menyirami mereka dan. mereka tumbuh menjadi besar, menjadi pakis, chevelure, tanaman-tanaman dengan aneka bunga-bunga indah, bahkan ada yang menjadi pohon. Saya tidak memiliki bunga mawar yang mahal-mahal seperti yang di toko bunga, cuma mawar-mawar liar, bunga-bunga, tanaman-tanaman liar. Kadang-kadang pulang dari perjalanan saya membawa bibit tanaman yang saya tanam di kebun saya. Tanaman apa pun bisa kita tanam asal saja luas tanahnya cukup untuk menampungnya, lalu kita rajin menyirami dan memelihara dengan baik.
Saya juga membuat kolam yang saya hubungi dengan selokan. Tanaman air, – pohon teratai, pohon yangliu saya tanam – ikan-ikan, udang, kepiting, penyu air tawar, capung jarum berkunjung, tinggal dengan sendirinya. Kupu-kupu, lebah, cengkerik, uir-uir, kadal, bunglon, bajing, dan di malam hari, kelalawar, kunang-kunang datang, burung-burung bersarang di kebun. Saya membuat gubuk saya di dalamnya, saya begitu bersyukur kebun saya menjadi firdaus.
Ketika di rumah saya pikir, meski Pak Tukang Kebun cuma memiliki sebidang tanah kecil, meski tidak terlalu subur pun, ia begitu menyayangi tanah itu. Itulah sebabnya ia menjadikannya begitu indah, begitu disayangi, disyukuri. Andaikan orang diberikan sebidang tanah yang lebih luas, lebih subur pun, tapi kalau ia tidak menghargainya, membiarkannya begitu saja tanahnya menjadi segersang, sekosong gurun pasir.
Januari 2010
Catatan
Anda dapat membaca seluruh tulisan yang ada dalam Bahasa Indonesia dengan “scroll” jauh kebawah mencari “Categories” di sisi kanan dan click “Bahasa Indonesia”.
// BEGIN PARAMETERS
var page_name = ‘#’;
var invisible = ‘#’;
var text_counter = ‘#’;
// END PARAMETERS
wtslog(‘al11554′,’2′,’http’,page_name,invisible,text_counter);
