Pak Johan ke Cipeuteuy

 

 

Pak Johan ke Cipeuteuy 

Bayangkan kalau mobil pribadi si Boy bukan berisi
lima penumpang aja, tapi limabelas orang, jij coba masuk lagi. Begitulah keadaannya, waktu ik pulang dari Parungkuda naik kereta api setelah berkunjung ke Cipeuteuy. Ik mesti memanjat dan mendesak, menyusup dikit demi dikit lewat penumpang yang berjejalan di tangga masuk agar bisa masuk ke dalam gerbong.
 

Ik engga lihat satu calon penumpang pun yang punya karcis nyerah, biar dia itu orang perempuan atau anak kecil, sebab ini adalah kereta api terakhir, ibarat satu-satunya wij punya sekoci penyelamat, jij tahu?. Sebagian yang merasa kuat dan berani, duduk di atap gerbong, meski telah diperingatin bahayanya, dipajang dengan tulisan-tulisan gede di setasiun.  

Ngga ada ruang sejengkal pun yang kosong dan dengan setiap setasiun yang dilewatin, makin padat, berat kereta api.Andaikan ada pencopet, dia engga bisa kabur. Engga ada penjual yang bisa ngider. Kita-kita saling pegangan dalam gelap remang-remang karena hujan di sore hari.  Bersama-sama, beramai-ramai wij bergoyang, mau roboh ke kiri, kekanan, kedepan, kebelakang engga bisa direm, engga bisa dihindarin, ditahan. 

Apa ini apa yang dimaksud orang dengan AMPERA (Amanat Penderitaan Rakyat)? Ini jelas bukan derita kok tapi sesuatu yang disyukuri. Ik, rakyat, berebutan, bersyukur, lega bisa selamat, berhasil naik kereta terakhir. Pemerintah begitu baik memberikan rakyat tarip begitu murah. 

Mau engga mau, penumpang menganggap orang lain bukan orang lain lagi, tapi sesamanya, menjadi sayang, peduli, mau, siap nolong, rela membagi setiap tempat kosong sekecil apapun dan bukan seperti biasanya atau dalam keadaan normal, ik, orang bisa naik pitam, eh, malah menjadi amat bertenggang rasa.  

Perasaan macam itu tentu asing untuk orang yang kantongnya tebal. Apanya yang mau dibagi-bagi kalau segalanya sudah lega dan lebih dari cukup? Siapa yang mesti ditolong jika engga ada orang yang perlu ditolongin? 

Rakyat mah, engga manja, engga kapok-kapok, jij tahu? Biasa hadapin kesulitan sehari-hari, bisa naik kereta begitu murah, sepadat itupun disyukurin, dirasain seperti surga, biar mesti berdiri, berdesakan sepanjang perjalanan. Kalau engga punya semangat, keberanian, kegigihan orang muda, orang tentu udah lama nyerah. Syukur kalau ada perbaikan ekonomi, pemerintah bisa sediain lebih banyak gerbong. 

Sekarang wij disayang, dimanja dengan kemewahan oleh wij punya anak-anak yang udah dewasa. Wij dinasehatin, dilarang begini, begitu, agar tidak naik kendaraan umum, apa lagi kalau mereka tahu kalau keadaannya begitu. Wij dianterin, dijemput naik mobil. Buat ganti ik punya sepeda butut, ik  disediain sepeda gunung yang bagus pake rem yahud, speedo-meter, pakaian bersepeda, kacamata gelap, ban serep dan dikawal si Boy. Terima kasih. 

Tetapi ik malah jadi khwatir dimanja, diperlakukan begitu, jij tahu? Apa ik, engga disengaja sih, mau dijadikan orang yang cepat menjadi tua? Kalau jadi kebiasaan, ik sepertinya dilatih untuk menjadi engga mandiri, seorang penakut, engga tahan menghadapi kesulitan, bodoh dan lemah, ketimbang menjadi orang merdeka, bebas, penuh kepercayaan diri. Apa jij pikir? 

Tapi kalau ada orang dengar ik punya omongan dia tentu akan mencibir: “Ah, begitulah alasan orang kalau engga punya duit. De druiven zijn je te zuur (Buah anggur itu terlalu masam bagimu), kata pepatah. Yang enak dibilang engga enak. Yang engga enak dibilang enak. Gigih, pinter cari duit banyak dong, naik mobil pribadi, bukan gigih, berani berdesak-desakan di kereta api,” 

Betul.. Boro-boro mau berkunjung dengan nyaman ke Swiss, luar negeri seperti wij punya anak-anak. Ke Bali aja, kalau pun ik punya cukup uang, biarpun nyaman, ik engga mau naik pesawat terbang. Ke Cipeuteuy aja sendirian, engga pake penunjuk jalan, dengan segala risiko seperti nyasar, naik kereta penuh, sesak, mesti jalan kaki, nginap di rumah penduduk, kehabisan bekal duit, engga kurang pesona, nikmat, senangnya.  

Toh pesona, nikmat, senang berikut risikonya itu yang engga bisa dibeli dengan uang sebesar apapun, biar bukan ke Cipeuteuy, tapi cuman ke Depok. Bukan jauh-dekat, mewahnya kendaraan, atau kesohornya tempat yang mau dikunjungin, ‘
kan? Perjalanan yang aman dan nyaman membawa bekal uang se-koper, engga ada risiko, kurang seru, kurang berkesan. Soalnya orang engga perlu memutar otak.
 

Ik cukup pake sepatu, kaos olah raga, celana pendek aja. Hitung-hitung, ik bisa dapetin itu dengan ngeluarin Rp. 15.100.- doang, termasuk transpor dan makan, bukan jutaan. Lalu enak tidur di rumah, di tempat tidur sendiri. Jij engga bangga jij punya suami, eh, … mantan pacar, bisa melakuin ini, biar engga punya mobil, engga dibantu siapa pun, di umur hampir tiga perempat abad? Siapa tahu ik suatu waktu masih bersemangat akan melakuin dengan naik sepeda atau jalan kaki dan ngunjungin Taman Nasional Gunung Halimun sekalian. Atau bukan lewat jalan besar, tapi nyusurin kali Cisadane dari Rumpin ke Leuwiliang. Jij mau ikut? Biar awet muda, jij punya encok sembuh. Ha, ha, ha. Begitu pak Johan bercerita, menggoda istrinya. 

Suara Karya, Rakyat Tidak Manja , 4 Nopember 2000

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.