Operasi Cinta Tanah Air
Operasi “Cinta Tanah Air”
Demi cinta Tanah Air, di Timor Tengah Selatan, pernah orang malas, suka berkeluyuran, mabuk-mabukan, berjudi, mencuri, main perempuan, … langsung dihukum ditempat, disaksikan umum.
Cinta yang mau dipaksakan, diterapkan ini rupanya suatu peraturan baru yang revolusioner dalam bidang hukum dan Hak-Hak Azasi Manusia, konon didukung DPRD, Muspida setempat, tokoh dan pemuka masyarakat. Suatu gagasan yang mencerminkan imaginasi dan kreativitas tinggi, yakni mencoreng-moreng mulut si pelaku “kerawanan kamtibmas dan sosial” dengan lumpur demi kebaikan mereka. Yang baik, yang rajin diberi hadiah, penghargaan. Begitu ditulis surat kabar.
Saya jadi teringat zaman dulu, kala ada ibu-ibu yang begitu inovatif, hingga mengancam anak-anaknya dengan hukuman melumuri cabe rawit atau tahi ayam ke mulut, juga demi kebaikan mereka.
Bayangkan jika ramai-ramai pejabat, guru, pimpinan ikut mengadakan Operasi Cinta Akhlak, Cinta Susila, Cinta Ilmu, Cinta Perusahaan, … dengan ancaman seperti tersebut diatas, atau diarak keliling desa dalam keadaan bugil, atau dijemur, ditampar seperti di zaman pendudukan oleh Jepang tanpa diadili.
Serem. Murid tentu tak berani membolos, pegawai rajin kerja dan datang, pulang tepat waktu, laki-laki tidak akan menyeleweng, warga jadi baik, alim sebab rasanya orang lebih takut dipermalukan di muka umum ketimbang dihukum.
“Itu mah bukan baik.” Si upik nyeletuk. “Masa kebaikan, mencintai Tanah Air mesti dipaksa, diancam-ancam, ditakut-takuti dulu atau diiming-imingi hadiah, mengharapkan pahala? Meskipun itu mencintai HAM., Demokrasi, Orang Tua, Tuhan. Orang jadi munafik, berpura-pura baik, mencintai karena takut atau karena mengharapkan pahala.”
Suara Pembaruan, 10 September 1987
Catatan
Anda dapat membaca seluruh tulisan yang ada dalam Bahasa Indonesia dengan “scroll” jauh kebawah mencari “Categories” di sisi kanan dan click “Bahasa Indonesia”.
