Opa Johan Nylametin Burung Rawa
Opa Johan Nylametin Burung Rawa
“Coba tebak, apa yang istimewa nyang ik beli ketika naik sepeda, main-main ke danau Cipondoh?” kata opa Johan kepada istrinya.
“Es tebu.”
“Salah. Itu ngga istimewa sih.”
“ Makanan, minuman atau apa?”
“Bukan, ik beli burung rawa yang kebetulan ditangkap penangkap ikan. Ik lihat sesuatu ngegeleper di galah, eh ternyata itu burung yang meronta-ronta mencoba membebaskan diri. Ik tanya mau di apain itu burung kecil.”
Dia bilang: “masak dan makan”. Jangan lupa dia cuman orang kampung miskin.
Ik jadi ingat penyu yang ditangkap minggu lalu. Ik selalu lamban memutuskan sesuatu, jij tau? Udah jauh baru ingat, kenapa engga beli penyu itu lalu lepaskan lagi di danau. Jadi sekarang ik udah siap, langsung tanya apa dia mau jual burung itu. Dia tawarkan untuk Rp 10,000,-, ah murah dibanding sama dia punya kebebasan ik pikir. Engga usah ditawar lagi.
Tapi dia masih diikat tergantung di tiang bambu. Apa akal, bakar talinya pake api sigaret.Eh, masih ada dua kakinya juga diikat, engga ada pisau, cari sepotong logam tajam. Dia pegang kedua kaki burung itu keatas kaya pegang ayam dengan kasar gitu lalu coba motong talinya. Susah. Akhirnya lepas juga . Dia orang tentu pikir orang tua begini begimana mau bawa pulang ini burung naik sepeda engga pake kurungan. Waktu mau pergi ik periksa lagi, eh, ternyata patuknya juga diikat. Kasian banget. “Dia matuk, tapi gampang talinya dibuka lagi” dia orang meyakinkan.
Ik pergi, coba membuka benang plastiknya, tapi benangnya begitu kuat engga bisa ik putusin. Kalau ik lepasin dia sekarang tentu dia akan mati kelaparan. Ik buru-buru balik lagi. Untung dia orang masih ada. “Pak tolongin, talinya engga bisa lepas.” Tapi buat dia juga engga gampang. Dia tarik-tarik secara kasar, paruhnya bisa luka, akhirnya putus juga.
Nah, ik cari tempat yang agak terbuka untuk meliat saat dia dibebasin. Eh dia engga terbang, malah lari sangat cepat dan belum sampai satu detik ia sudah hilang kedalam semak-semak.
Tentu ik amat girang, amat beruntung pernah bisa lihat, pegang burung itu. Mungkin itu burung rawa yang sanggup berjalan di atas daun-daun air ngambang. Puluhan tahun ik ngga pernah lihat lagi. Sedih banget kalau sampai punah. Sayang ik lupa tanyain namanya.
Yang engga bisa dipikir, ik masih inget jalan di danau ini dimusim kering dulu yang pernah kering kerontang. Ngga ada ikan yang bisa bertahan hidup, tapi sekarang setelah lebih dari sepuluh tahun, ik lihat penjala ikan bawa ikan-ikan segede piring makan. Begimana itu ikan-ikan bisa ada disana? Tapi ik engga slametin itu ikan-ikan, meski masih hidup.
Lalu ik rayakan kejadian gembira ini dengan minum es cendol dalam perjalanan pulang di matahari terik kira-kira 35 km lagi, minuman sejuk, minuman surga, Cuman ce-ceng. Asyik.
Jij engga bangga punya suami hebat? Cium! Ik pantes dihadiahin cium.”
Juni 2009
Catatan
Anda dapat membaca seluruh tulisan yang ada dalam Bahasa Indonesia dengan “scroll” jauh kebawah mencari “Categories” di sisi kanan dan click “Bahasa Indonesia”.
// BEGIN PARAMETERS
var page_name = ‘#’;
var invisible = ‘#’;
var text_counter = ‘#’;
// END PARAMETERS
wtslog(‘al11554′,’2′,’http’,page_name,invisible,text_counter);
