Opa Johan Mengenang Si Pengasong Tua
Opa Johan Mengenang Si Pengasong Tua
Ada pengasong tua bawa baki kecil, jalan terseok-seok, mau jatuh, jij tahu? Begitu cerita Opa Johan pada istrinya. Itu di stasiun Bojong Gede, ramai orang-orang yang nungguin kereta api di peron tinggi dan sempit. Ik rasa dia engga bikin-bikin, pura-pura. Lebih cocok kalo dia duduk di kursi roda aja, eh dia mah jualan. Pikir-pikir beraninya dia.
Engga kepikir waktu itu beli aja dia punya tissiu, biar engga perlu, lalu sodorin seratus ribu, kerjain dia, biar nyaho, kelabakan, menyiksa dirinya sedikit cari uang kembali yang tentu dia engga punya. Ik pura-pura akan marah. Padahal uang kembaliannya ik engga minta kembali. Dia tentu akan melongo, engga percaya mendapat rezeki nomplok, sambil jepret dia dengan ik punya kamera. Ha, ha.
Padahal memang itu yang ik mau, supaya dia merasa dirinya tetap terhormat, engga malu, merendahkan diri dengan mesti mengemis.
Tapi sayangnya ik sering terlambat ambil keputusan, jij tahu? Lain kali ik udah siap.
“Jij engga bangga punya suami pinter dan baik begitu?” Ia berbisik. “Cium ik dong.”
Agustus 2011
Catatan
Anda dapat membaca seluruh tulisan yang ada dalam Bahasa Indonesia dengan “scroll” jauh kebawah mencari “Categories” di sisi kanan dan click “Bahasa Indonesia”.
// BEGIN PARAMETERS
var page_name = ‘#’;
var invisible = ‘#’;
var text_counter = ‘#’;
// END PARAMETERS
wtslog(‘al11554′,’2′,’http’,page_name,invisible,text_counter);
