Opa Johan Jadi Orang Kaya Banget
Opa Johan Jadi Orang Kaya Banget
Ketika ik hati-hati mesti turun dari kereta api yang penuh, dengan ik punya sepeda sekitar setengah meter kebawah, ada orang bantu pegang ik punya sepeda. Eh, dia gadis kecil, agak malu, kaget atas dia punya kelancangan bantuin ik. Jangan lupa ini kan Indonesia di zaman anak perempuan engga berani bebas bergaul dengan orang laki-laki. Ik tepuk, – lebih pantas dicium – dia punya tangan buat ik punya terima kasih atas dia punya hadiah yang tak disangka-sangka. Ik engga lihat dia naik kereta api tapi waktu kereta api berangkat lagi ik coba lihat, buat bilang selamat jalan, tapi dia engga kelihatan lagi. Sayang.
Di jalanan becek di suatu desa ada sebagian jalan yang kering, pas untuk sepeda lewat. Seorang wanita naik motor datang dari depan, dia pelanin dan kasih permisi ik jalan dulu, sambil hadiahin ik senyum manis sebagai dia punya salam jumpa. Sedap!
Kemudian di jalan sepi, ik ketemu seorang ibu muda bawa dia punya anak di pelukannya, satu tangannya lagi mengendalikan sepedanya. Ik angkat ik punya jempol. Dia senyum, bangga, bahagia sebab ik hargain dia punya kehebatan. Tambah satu hadiah lagi.
Ik banyak ketemu orang-orang baik yang selalu diinget dalam perjalanan bersepeda. Ik dapat begitu banyak – dihadiahin senyum, sapaan manis, bantuan, … – sedikit pun engga keluar uang. Ik jadi orang kaya banget. Jij engga bangga, bersyukur punya suami kaya ik? Ha. ha.
Maret 2010
Catatan
Anda dapat membaca seluruh tulisan yang ada dalam Bahasa Indonesia dengan “scroll” jauh kebawah mencari “Categories” di sisi kanan dan click “Bahasa Indonesia”.
// BEGIN PARAMETERS
var page_name = ‘#’;
var invisible = ‘#’;
var text_counter = ‘#’;
// END PARAMETERS
wtslog(‘al11554′,’2′,’http’,page_name,invisible,text_counter);
