Ngebecak Lambang Kemiskinan?
Ngebecak Lambang Kemiskinan?
Coba, andaikan bang becak berpakaian lengkap dengan sepatu ‘boot’ dan topi seperti seorang ‘jockey’ yang menunggang kudanya dengan gagah, lalu ia dibayar ribuan dolar untuk sekali turun di jalanan seperti raja-raja tinju yang turun bertinju, menarik becak menjadi sesuatu profesi kebanggaan yang terhormat. Menarik becak tidak lagi merupakan suatu aib atau lambang kemiskinan, atau apa yang disebut Exploitation de l’homme par homme. (penghisapan manusia olah manusia).
Kalau dengan memulung orang bisa menambang, menumpuk emas berpeti-peti, orang ramai-ramai akan menukar kariernya dan dengan bangga menjadi pemulung. Ha, ha, ha. Begitu komentar pak Arif.
Januari 2000
Catatan
Anda dapat membaca seluruh tulisan yang ada dalam Bahasa Indonesia dengan “scroll” jauh kebawah mencari “Categories” di sisi kanan dan click “Bahasa Indonesia”.
// BEGIN PARAMETERS
var page_name = ‘#’;
var invisible = ‘#’;
var text_counter = ‘#’;
// END PARAMETERS
wtslog(‘al11554′,’2′,’http’,page_name,invisible,text_counter);
