Neraka dan Surga Marathon

Neraka dan Surga Marathon 

Orang umumnya cenderung lebih membanggakan kendaraan  Mercedes atau Volvo, ketimbang kaki mereka. Tetapi menurut saya, kehilangan Mercy atau Volvo memang menyesakkan, kehilangan kaki adalah malapetaka. 

Hanya mereka yang pernah ikut lomba tahu  neraka  Marathon: neraka latihan berlari berjam-jam non-stop, kecuali berhenti untuk minum, termasuk  berlari di bawah terik matahari seorang diri;  nera­ka lomba ketika diburu waktu, sedangkan setiap km dalam  lomba terasa makin panjang makin  mendekati akhir.                                                         

Lalu  bayangkan bis-kota berhenti  disamping  anda yang  begitu menggiurkan,  seakan-akan  mengundang anda untuk diam-diam “mencuri” ikut menumpang  dengan  nyaman  kearah  finish,  membiarkan  berlalu begitu saja; belum lagi membawa pulang hadiah tiga buah  kuku  kaki memar dan nyeri tumit  yang  baru terasa  setelah perlombaan selesai sebagai kenangan. 

Menurut cerita, betapa hausnya orang dineraka sehingga meminta dipuaskan  meski hanya dengan setetes  air saja;  tetapi anda tidak hanya  menikmati  surga kesejukan  setetes air, melainkan satu teh  botol, dingin lagi, dalam neraka terik matahari dan  .. anda  tidak menikmatinya hanya  sekali,  melainkan berkali-kali selama latihan.                           

Atau bayangkan neraka jika anda tiba-tiba  perlu  b….   a..  tetapi tidak berjumpa  dengan  toilet umum, alangkah leganya menemukan surga meski  di toilet jongkok setengah terbuka diatas kolam  ikan  atau kali.            

Wah,  sedapnya menyasar ketika mencoba rute  Marathon ke daerah yang sepi, kecuali kicauan   burung dan suara-suara alam, menghirup udara segar,  bersih dan melihat matahari pagi dengan megah  menam­pakkan diri,  khususnya bagi  orang  yang  sering terjebak  dalam neraka  kebisingan,  kepengapan, kemacetan lalu-lintas. 

Asyik, berulangkali anda sengaja menyasarkan diri, kemana  saja kaki membawa anda,  melintasi, menembusi firdaus  hutan, sawah,  desa, menyeberangi kali,  menyusuri  jalan setapak,  tepi situ, entah menyasar kemana,  tahu-tahu  tiba di Bojong Gede, Serpong, Cipondoh  atau terdampar di pantai Tanjung Pasir, silahkan  anda terka letaknya dimana. 

Dan  lelah  dari perjalanan, seperti  naik  kereta surga saja nyamannya pulang ke Jakarta, meski cuma naik colt atau  bis metro mini yang penuh sesak dan berdiri lagi,  lalu merayakannya dengan mandi, makan  yang serasa surgawi dan menutup hari itu dengan  memeluk  bantal, seempuk awan di kahyangan. Mengapa bersusah-susah  mencari surga  sampai  keujung  bumi,jika anda dapat menemukan surga di kamar  mandi, di meja makan, tempat tidurmu sendiri. 

Usia lanjutpun bukanlah halangan untuk  memulai berlatih. Jangan­lah pernah jera, kapok.                                                                                     

Dimuat Jayakarta, 10 Oktober 1992

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.