Nasib “Tanah Airku Indonesia”

Nasib “Tanah Airku Indonesia 

“Alangkah indahnya pemandangan yang tampak  bagai­kan pulau yang begitu hijau, terkurung ditengah lautan tanah gersang yang tanpa peduli sedang  ditraktor, digunduli, diratakan dengan tanah. ‘Persiapan untuk membangun  perumahan Real Estate’ kata orang.  Sisa penduduk  desa  rupanya tak  rela  menjual  oasis, firdaus mereka. 

“Saya  jadi teringat indahnya lembah Pelayangan  di desa  Cilenggang, Serpong. Kalau saja  cukup  ber­uang, akan saya ikut berebut membeli tanah disitu. Bukan  untuk membangun, melainkan untuk  memperta­hankan alamnya sebagaimana semula, tanpa mengusir, menggusur,  penduduk  asalnya.  Kalau  saja   saya sekaya Liem  Sioe Liong, akan saya  beli  seluruh kawasan  Puncak,  berikut  pegunungan  di  kawasan Cariu, Cikalong,  demi  mempertahankan  keutuhan, keindahan,  pesona alamnya.” begitu  khayalan  pak Arif yang dibisikkan pada saya. 

“Kalau  pohon mangga tumbuh di tepi  jalan,  meski sedap dipandang mata, buah-buahnya amat manis  dan melimpah,  siapa yang merasa peduli,  risau,  iba, sedih? ‘Engga ada yang punya kok’, kata orang.  Tega orang merusaki, mematahkan dahan-dahannya, mengam­bil  kayunya,  memetik  buah-buahnya  meski  belum masak, takut didului orang lain, lalu menebangnya. Lain  jika  pohon itu ‘ada yang punya’,  ada  yang menyayangi dan  melindungi,  lantas  memagarinya, pohon itu akan selamat, terhindar dari  perusakan, penghinaan, penodaan, perlakuan sewenang-wenang.  

“Nah, begitulah nasib dari apa yang bisa  diperoleh dengan  bebas,  misalnya air sungai,  pasir,  batu gunung, ikan laut, kayu hutan …  Kalau  saja  kita  merasa  yang punya, merasa sayang akan alam  kita, yang  begitu hijau, indah dipandang  mata,  begitu hening, bening, sejuk disandang rasa, orang  tidak sembarang akan membabat, menggusur hutan,  bukit, menguruk lembah, situ yang membanggakan itu demi uang.   ‘Uang hanya  baik  kalau  menghamba,  uang seperti  setan kalau dijadikan raja’, kata  suatu peribahasa. Maklum, suara saya hanya suara semut.” begitu  pak Arif mengakhiri cerita. 

Saya  jadi teringat pengurangan areal hutan  Jawa, Bali  yang  mencapai  90,5%  menurut  FAO (di waktu itu, Penulis).  Betapa banyak  hutan telah dan akan diubah  lagi  menjadi “hutan”, aspal, semen dan beton. Hiroshima,  Naga­saki yang  hancur bisa  dibangun  kembali.  Warga fauna,  flora yang terlanjur punah  dan lenyapnya kekayaan hutan, pegunungan, perairan  kita  yang begitu  memesona, tak pernah bisa kembali. Dan sayup-sayup  melintaslah  nyanyian “Tanah  Airku  Indonesia“, ibu pertiwi  yang kita cintai. 

                                      

Sinar Pagi, 31 Oktober 1995                                         

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.