Nasib Sang Kacer

Nasib Sang Kacer

“Lihat burung kacer itu mengoceh, seraya terbang menubruk-nubruk seperti kalap dalam kurungan kecil itu, bagai sedang mabuk, ingin meluapkan kebebasan, kegembiraan, kebahagiaannya yang terhalang.” Begitu kata pak Arif pada saya.

Ia merasa begitu iba kalau mengingat nasib burung itu yang sejak kecil, tentu hidup, dipelihara dalam kurungan, tanpa mengeluh, memrotes, tanpa merasa, mengetahui betapa besar kehilangan apa yang seharusnya menjadi miliknya.

Bukan untuk terbang terhalang menubruk jeruji kurungan, melainkan untuk terbang di udara dan merasa betapa indahnya hidup dalam kebebasan.

Bukan untuk seumur hidup bertengger di atas kayu tenggeran yang sama, sendirian, melainkan untuk seharian bermain-main, beristirahat di dahan-dahan pohon teduh, berkicau, melihat, merasakan hangatnya matahari. Lalu bahagia menemukan pasangannya, membuat sarang yang terbuai angin, bertelur, mengeraminya dengan sabar dan mengasuh anak-anaknya penuh kasih sayang sampai besar.

“Ah, betapa sakitnya. Dalam setiap makhluk, saya sepertinya mengenali diriku sendiri.” kata pak Arif.

Berita Buana 15 Mei 1997

Catatan
Anda dapat membaca seluruh tulisan yang ada dalam Bahasa Indonesia dengan “scroll” jauh kebawah mencari “Categories” di sisi kanan dan click “Bahasa Indonesia”.

wtslog(‘al11554′,’2′,’http’);

web stats analysis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.