Menyongsong SEA Games Mendatang
Menyongsong SEA GAMES Mendatang
Menyongsong SEA GAMES berikutnya, tak sampai hati rasanya meminta para atlit untuk berjuang, bertanding demi mengangkat nama saya, apa lagi memikul beban mengangkat nama, martabat, kehormatan bangsa dan negara. Bukankah sebaliknya, negara justru harus berupaya, berjuang, menyediakan sarana, demi mengangkat, meningkatkan prestasi, dan menyenangkan, membanggakan, membahagiakan warga, rakyatnya? Bukan untuk “menyiksanya” dengan latihan supaya menjadi juara umum. Bagaikan pohon-pohon yang ditanam, dipupuk dan dipelihara dengan penuh rasa sayang, kelak membalasnya dengan memberi buah-buahnya yang serba berlimpah sebagai rasa syukur. Begitu kata seorang warga, mengungkapkan perasaannya.
Saya jadi teringat ucapan seorang ayah: “Buat apa hidup tersiksa memaksa diri meraih peringkat juara umum? Setelah berupaya sebaik-baiknya, kalau pun hasilnya kurang atau pas-pasan saja, saya tidak
akan memaki-maki anak saya. Ia toh tidak diberi kesempatan belajar untuk mengejar peringkat atas, atau menjadi juara umum demi kebanggaan, gengsi orang tua, melainkan kesempatan belajar demi
kepentingan, kesenangan dirinya sendiri.” Kalau sudah berupaya habis-habisan: atlit pilihan yang terbaik, dilatih pelatih yang terbaik, penyediaan sarana yang terbaik dengan dana yang ada, syukur-syukur menjadi juara umum, kalau tidak? Apa yang mau disesali seperti yang terjadi di Chiang Mai? Dan bersama Jack Charlton, pengasuh sepak
bola Irlandia ketika regunya belum lama ini dikalahkan Belanda, kita tanpa merasa malu bisa mengatakan: “Kami tidak lemah. Kami dikalahkan lawan yang lebih tangguh.” Mengapa harus bersedih?
Bukankah lawan pantas dikagumi?
Jayakarta, 4 Januari 1996
