Menolak Sekarang Atau …?
Menolak Sekarang Atau …?
“Pilih mana?” tanya Pak Arif. “Lebih baik enak sekarang dengan tidak menolak tapi engga enak di kemudian hari? Pikir dulu. Atau … tidak enak dengan menolak sekarang, tapi enak di kemudian hari?”
“Saya sih memilih menolak sekarang meski engga enak, dari pada tidak menolak tapi menyesal, engga enak terus berhari-hari memikirkan yang akan engga enak di kemudian, belakang hari.” kata si Buyung.
“Misalnya tidak berani menolak undangan pesta ulang tahun, pesta perkawinan yang diselenggarakan secara besar-besaran. Padahal lebih enak makan di restoran atau rumah makan yang makanannya terkenal enak dengan keluarga, tak terikat kewajiban, waktu apa pun, meskipun mesti bayar, ketimbang di jamu gratis kalau mengingat “bayaran” mahal dibelakangnya. Seperti: memikir jasnya, dasinya, sepatunya, rambutnya, taksinya, basa-basinya, jabatan tangan, cium pipi, jadwalnya, pidatonya, nunggu kapan selesainya, bahan omongannya, kalau sampai kehabisan bahan omongannya, bising loud-speakernya, belum lagi berjam-jam mencari, memilih kadonya ke Mall,… hanya untuk menyenangkan orang dengan datang menyampaikan ucapan selamat atau doa restu. Ha, ha, ha.” Si Buyung tertawa.
“Seorang yang mau saja, menerima, percaya saja, seorang penurut cenderung dianggap orang baik, rajin, lebih disukai, lebih dihargai, ketimbang orang yang berani menolak. Badan, jiwa sehat mempunyai daya tolaknya, itu cermin kepedulian atas dirinya. Orang yang tak dapat menolak melakukan apa yang menyenangkan, dihargai orang lain dari pada apa yang disenangi, diingini, dihargai diri sendiri. Dia hidup kehidupan orang lain, bukan kehidupan diri sendiri.” kata pak Arif.
Juni 2005