Menjadi Mangsa Ciptaanya Sendiri

Menjadi Mangsa Ciptaannya Sendiri

Manusia sudah makin pandai menemukan aneka macam varietas baru, seperti dari jenis padi, kelapa, ayam, sapi, ikan, bahkan kini orang sudah bisa mengutak-atik gen-gen makhluk hidup. Memang, pengetahuan itu bisa menjadi berkat yang amat besar bagi umat manusia, tetapi tanpa kendali ia sepertinya bisa menjadi trauma, mimpi buruk, kutukan bagi umat insan.

Apa anda tahu apa hibrida “manusia-hewan”? Yakni keturunan dari persilangan manusia-hewan. Bagaimana jika suatu waktu ada orang yang melakukan percobaan ini dan benar-benar bisa menghidupkan makhluk semacam Spinks yang bertubuh binatang dengan kepala orang atau sebaliknya. Belum lagi bahaya jika orang menciptakan kuman baru yang ganas semacam AIDS, dan kuman itu berhasil “kabur” serta berkeliaran di bumi karena suatu “kecelakaan” di laboratorium. Tak heranlah jika percobaan-percobaan berbahaya macam itu dilarang. Lalu ancaman meletusnya perang nuklir, perang kimia, perang kuman, dengan senjata makin canggih dan makin “maut”.

Saya teringat sebuah cerita kuno yang manis. Entah siapa orang yang bijak itu.
Tiga bersaudara ingin membaktikan diri kepada nusa dan bangsa. Yang pertama namanya Iptek, adiknya Biotek. Kedua-duanya kesayangan orang tua dan pujaan serta kebanggaan masyarakat. Yang ketiga, si bungsu disebut orang-orang, Moyung, alias si Tak Berguna karena ia hanya memiliki akal sehat. Itu kan tak perlu diajarkan disekolah, lalu akal sehat tak bisa dijadikan duit lagi dan bukan sesuatu yang dapat dibanggakan. Lagi pula, Moyung sering menjengkelkan para pakar dengan kata-kata “tak bisa diterima akal sehat”, kalau membantah pendapat mereka.

Yang sulung dengan bangga memperlihatkan kepandaiannya dengan menyusun kembali tulang-belulang yang berserakan dari seekor singa.Yang kedua melengkapinya dengan daging, kulit, cakar dan gigi-gigi.

“Nah” kata yang kedua, “saya juga berkuasa untuk menghidupinya.”

Tetapi Moyung jadi ketakutan. “Jangan, jangan dihidupkan kata akal sehat saya. Kalau yang dihidupkan kambing, kelinci, boleh saja. Tapi ini kan singa.”

“Dasar si Moyung tak berguna dan bodoh. Tidak ada alasan untuk takut kalau singa itu membahayakan manusia, karena tidak ada bukti ilmiah begitu. Justru kita harus bisa membuktikan kehebatan ilmu kita.” kata kedua kakaknya.

“Tunggu dulu.” Moyung segera memanjat pohon dan Biotek menghidupkan singa itu yang lalu menerkam kedua saudara yang berada dibawah pohon. Begitulah yang empunya cerita zaman dulu.

Namun versi modern yang beredar berkata: “Pengarang dulu itu entah ngawur, atau ngibul. Jangan khwatir. Iptek dan Biotek malah selamat dan dipuja seakan Juru Selamat, Mesias. Moyunglah yang berdasarkan akal sehat memanjat pohon itu justru celaka dimangsa singa. Jika anda tidak percaya, baca kembali buku biologi SMA, bab perilaku singa.” Dan banyak orang membenarkan versi ini.

Media Indonesia 6 Desember 1992

Catatan
Anda dapat membaca seluruh tulisan yang ada dalam Bahasa Indonesia dengan “scroll” jauh kebawah mencari “Categories” di sisi kanan dan click “Bahasa Indonesia”.

wtslog(‘al11554′,’2′,’http’);

web stats analysis

// BEGIN PARAMETERS
var page_name = ‘#’;
var invisible = ‘#’;
var text_counter = ‘#’;
// END PARAMETERS

wtslog(‘al11554′,’2′,’http’,page_name,invisible,text_counter);

site statistics

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.